Latest Post

Showing posts with label Cerita Lucu. Show all posts
Showing posts with label Cerita Lucu. Show all posts

Telur Ayam Nursobur Bertuliskan Arab

Written By Garut Express on Sunday, December 8, 2013 | 9:24 PM


Dua telur aneh yang menghebohkan warga, memiliki tulisan menyerupai Allah dan Muhammad

MALANGBONG, (GE).-
Warga Kampung Cibugel, Desa Cikarang Kecamatan Malangbong dihebohkan dengan ditemukannya dua butir telur ayam yang memiliki keanehan. Telur milik Nursobur (54) memiliki tulisan Arab yang menyerupai kata Allah dan Muhammad.
Telur tersebut ditemukan tanpa sengaja oleh Nursobur saat hendak memindahkannya. Saat itu istri Nursobur melihat ukiran aneh yang menyerupai tulisan diatas cangkang telur. “istri langsung memanggil saya ketika melihat telur tersebut, begitu dilihat ternyata ada dua telur yang memiliki tulisan diatasnya,” katanya.
Nursobur mengatakan banyak warga yang datang ingin melihat keanehan telur miliknya. Bahkan rekannya membawa telur tersebut kepada orang pintar, menurutnya telur tersebut memiliki kelebihan dan bisa digunakan untuk nyareatan saat berdagang. Meskipun telur tersebut memiliki perbedaan, Nursobur dan istri memutuskan untuk menyimpannya sebagai koleksi.
“saya tidak mengerti mengenai hal-hal seperti itu. Jadi telurnya disimpan saja sebagai koleksi,” ucap Nursobur. (TOTOH)***

Panwas Garut Segera Tindak Caleg Nakal


TARKID, (GE).- Badan Pengawasan Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Jawa Barat mengungkapkan di lapangan masih menemukan sejumlah calon legislatif (Caleg) yang melanggar peraturan KPU nomor 15 tentang pemasangan alat peraga kampanye.    
"Dilapangan masih ada caleg yang memasang spanduk, poster atau pamflet yang bertebaran melanggar aturan," kata Ketua Bawaslu Jawa Barat, Herminus Koto saat rapat koordinasi bersama Panitia Pengawasan Kecamatan (Panwascam) se-Kabupaten Garut di Aula Suminar, Garut, Sabtu, (7/11).
    
Menurut dia, pelanggaran pemasangan alat peraga kampanye tersebut merupkan salah satu indikasi bahwa Caleg belum memahami tentang peraturan KPU Nomor 15 tahun 2013. Ia menjelaskan, Peraturan KPU tersebut salah satunya menyebutkan agar alat peraga seperti spanduk hanya diperbolehkan dipasang satu partai berikut nama para Calegnya di satu desa.    
"Spanduk, poster dan pamflet yang banyak bertebaran dalam aturan tidak boleh, harusnya satu desa satu partai memasang alat peraga kampanye," katanya.
    
Upaya Bawaslu melakukan penindakan terhadap alat peraga kampanye yang melanggar aturan tersebut, kata Herminus, salah satunya dengan koordinasi bersama seluruh Panwascam diantaranya Panwascam se-Kabupaten Garut. Ia berharap Panwascam di Garut dapat melakukan langkah penindakan sesuai aturan jika menemukan pelanggaran pemasangan alat peraga kampanye caleg.
    
"Bagaimana tindakan Panwascam yaitu koordinasi dengan pemerintah setempat dan KPU untuk menertibkannya, kemudian memberikan teguran bukan lisan tapi surat kepada yang bersangkutan," katanya.
    
Sementara itu, Panwascam Selaawi, Nandang menyatakan pihaknya sudah melakukan langkah untuk terus mengawasi pemasangan alat peraga kampanye caleg. Namun, kata Nandang Panwascam Selaawi mengalami kendala saat akan memberikan surat teguran pelanggaran kampanye karena diwilayahnya tidak ada kantor tim kampanye atau rumah Caleg.   
"Kendala di Kecamatan Selaawi yaitu saat menemukan pelanggaran harus kemana melayangkan surat teguran, karena di wilayah kami tidak ada sekretariat tim kampanye," kata Nandang. (Farhan SN)***

FARHAN SN/GE
SEJUMLAH anggota Panwascam saat mengikuti rapat koordinasi di Hotel Suminar, Sabtu (7/11)**

Singa Depok, Bertahan di Tengah Zaman

Written By Garut Express on Tuesday, December 3, 2013 | 8:24 PM

ARAK-arakan Singa Depok membawa pengantin sunat.
 
SELAAWI,(GE).- Di zaman modern ini, sangat jarang masyarakat yang mau menampilkan kesenian tradisional.Mereka lebih memilih
kesenian yang dianggap lebih maju dibandingkan budaya lokal. Contohnya bila ada pesta pernikahan atau sunatan, masyarakat akan lebih memilih organ tunggal dibanding hiburan yang sifatnya kedaerahan. Alasan pemilihan budaya populer karena budaya populer cenderung lebih praktis dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih ringan.

Di mata  Ketua Fagar Selaawi, Yayan Sopiyan S.Pd.I, fenomena tersebut terjadi karena kemungkinan besar masyarakat telah terpengaruh dengan arus budaya global.  "Untuk mengantisipasi hal tersebut ada baiknya jika kesenian tradisonal dikombinasikan dengan kesenian modern,sehingga nantinya akan timbul kembali rasa rindu terhadap seni budaya daerah yang original dan juga rasa cinta terhadap seni budaya daerah harus ditanamkan kepada generasi penerus sejak dini, sehingga tidak terlalu mencintai budaya populer," tuturnya.

Tetapi diantara himpitan budaya modern tersebut, ternyata masih ada masyarakat yang setia "ngamumule" budayanya sendiri. Tercatat masih ada kelompok seni tradisional  yang tetap eksis bahkan masih banyak menerima tawaran untuk manggung. Begitu juga dengan masyarakat, ada diantara mereka yang masih setia menjadikan kesenian tradisinal sebagai pertunjukan dalam beberapa perhelatan. Seperti yang dilakukan, Sujana, Warga Desa Cirapuhan Kecamatan Selaawi yang mengadakan hajatan sunatan dan mengundang grup singa depok sebagai hiburan.

Saat kesenian singa depok ditampilkan masyarakat sekitar yang menonton terlihat antusias, karena arak-arakan pengantin sunat yang diiringi pertunjukan singa depok adalah tontonan yang langka. Iring-iringan pengantin sunat berjalan sejauh 2 Km, terlihat banyak anak-anak yang ikut bergabung sambil berjoget.

Sujana memang sengaja menggelar kesenian tersebt untuk memeriahkan sunatan sang cucu tercinta. Berawal dari kecintaannya terhadap budaya seni daerah, Sujana  merencanakan pagelaran singa depok untuk hiburan sunatan sang cucu dari jauh - jauh  hari. "Saya sengaja menggelar acara tersebut agar cucu saya kelak bisa lebih mencintai budaya seni daerah dan berharap agar budaya seni daerah tetap bisa lestari," jelasnya (USEU)***

Peletakan Batu Pasar Limbangan Berjalan Lancar

Written By Garut Express on Wednesday, November 27, 2013 | 10:47 PM


LIMBANGAN (GE)
Proses revitalisasi pasar Limbangan telah resmi dilaksanakan, hal ini ditandai dengan adanya acara peletakan batu pertama, Selasa, (19/11). Peletakan batu pertama ini seharusnya dilakukan oleh bapak Bupati,namun dalam hal ini diwakili oleh bapak Asda satu.
Acara tersebut dihadiri juga oleh jajaran Kapolres Garut, Kadis Perdagangan Garut Bapak Eko Yulianto,Direksi CV Elva Primandiri yaitu Ibu Elva Waniza, yang berperan sebagai pengembang pada proyek ini. Serta dihadiri pula oleh segenap tokoh dari berbagai unsur masyarakat dan para pemilik kios dipasar Limbangan.
Dalam sambutannya, Eko Yulianto sebagai Kadis Perdagangan mengemukakan bahwa proses pembangunan Pasar Limbangan direncanakan akan selesai dalam waktu lima belas bulan,namun pihak pengembang akan berupaya semaksimal mungkin sehingga ditargetkan selesai sebelum lebaran tahun depan. Pembangunan Pasar Limbangan yang menelan biaya 60,8 milyar  ini nanti akan dibagi menjadi beberapa los atau kios yang penempatan dan biyayanya akan diatur secara teknis oleh pengembang yaitu CV Elva primandiri sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Dirut CV Elva Primandiri, Elva waniza, menyebutkan bahwa segala keluhan dari para pedagang adalah hal yang biasa dalam sebuah proses pembangunan pasar.
“Segala sesuatu yang menyangkut pembangunan pasar sudah selesai melalui sosialisasi dan sudah terjadi kesepakatan. Mulai dari harga los kios sampai bentuk atau model pasar, manajemennya sudah digambarkan oleh pengembang kepada warga pasar Limbangan. Sosialisasi sudah dilakukan sebanyak tiga kali, artinya sudah tidak ada lagi permasalahan antara pihak pengembang dengan warga pasar. Adapun demo yang terjadi dipasar Limbangan, itu adalah warna warni dalam proses pembangunan sebuah pasar, toh nantinya mereka akan merasakan keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Menurut Elva, saat selesai dibangun nanti, meski pemilik kios tidak menempati kios mereka, oemilik kios akan tetap mendapat keuntungan berlipat dengan menjualnya kembali.
Pihak pengembang telah mengupayakan subsidi harga los, yang tadinya 12 juta sekarang menjadi 9,5 juta.
Elva menyebut pasar Limbangan sebagai pasar seksi, karena mendapatkan subsidi, dan sangat strategis dibanding pasar lain. Elva menambahkan bahwa pihak pemerintah sedang mengupaya subsidi sehingga tidak memberatkan para padagang. Oleh karena itu, pihak pengembang berharap agar warga tidak terlalu mengedepankan hal-hal yang sifatnya kontra terhadap proses pembangunan Pasar Limbangan,agar proses pambangunan berjalan lancar.
Dari 1031 kios yang akan dibuat, pihak pengembang berjanji akan mengedepankan putera daerah, meskipun sebagian akan diberikan kepada pihak luar. Tetapi itu hanya sebagai bentuk penerapan hak pengembang, tanpa mengurangi ataupun mengambil hak dari putera daerah.
Lingkungan pasar Limbangan nantinya akan dilengkapi bangunan kantor Dishub,UPTD, dan kantor Pengembang yang bertujuan membantu penataan Pasar Limbangan agar lebih baik.
CV Elva Primandiri akan mengatur pasar Limbangan selama 20 tahun kedepan. Mulai dari kebersihan, keamanan,serta siap melayani segala keluhan keluhan dari warga pasar. Hal tersebut akan diwujudkan dengan cara menjalin kerjasama dengan putera daerah, dengan catatan putera daerah yang profesional dan mempunyai potensi pada bidangnya. (USEU)***

USEU/GE
KADIS perdagangan Kab.Garut beserta Direksi Cv Elva Primandiri sedang melihat maket Pasar limbangan.

Ular Sanca Kembang Santap 8 Ekor Ayam

Written By Garut Express on Tuesday, November 19, 2013 | 7:26 PM

LEUWIGOONG,(GE),-
Masyarakat Kampung Karangsaritongoh, Selasa,(12/11), sekitar jam 6 pagi dihebohkan dengan ular Sanca Kembang yang dipergoki Yayah (64) dalam kandang ayam dibelakang rumahnya. Yayah melihat ular tersebut ketika akan memberi pakan ayam dikandangnya, saat ia masuk ke kandang ayam, ia melihat seekor ular panjang dan bertubuh besar. Ular itu akan mematuknya sehingga yayah pun menjerit meminta tolong.
Abah Dana (43) dan Mutakim bergegas menghampiri setelah mendengar jeritan. Ternyata ular itu sudah memangsa 1 ekor ayam jago, perutnya terlihat buncit. Tanpa kompromi Abah Dana dengan dibantu Mutakim langsung menyergap ular sanca kembang tersebut dan dengan mudah dibekuk. Mata ular itu langsung ditutup dengan kain. Ular Sanca Kembang yang  panjangnya 3,6 m dengan berat 13 kg segera dibawa dari RT.03 RW.03 ke RT.01 RW.03 untuk diamankan. Dengan sekejap mata,tidak memerlukan waktu lama warga sudah banyak berkerumun melihat ular yang sudah tertangkap itu.
Ketua RW.03 Kampung Karangsaritongoh Desa Karangsari, Heri (44) mengatakan, 8 ekor ayam miliknya setiap minggu berturut-turut hilang terus. Semula menaruh curiga ayamnya  ada yang mencuri. Tapi setelah di selidiki, pintu kandang ayam yang dikunci masih utuh dan tidak rusak. Tipis kemungkinan jika ayamnya diembat oleh kawanan pencuri.
Ternyata ayam-ayam yang hilang di Kampung Pasirtongoh, bukan hanya milik ketua Rw saja, tapi ayam milik Usuf, Anda dan Yayah. Pengintaian oleh Ronda malam pun lebih ditingkatkan. Apalagi setelah ada informasi dari tukang tahu yang hendak belanja ke pasar yang mengatakan pernah melihat ular sebesar paha orang dewasa. Setelah melakukan pengintaian selama satu bulan, ular itu baru dapat ditangkap dikandang ayam milik Yayah. Namun, yang tertangkap adalah ular betina yang berukuran sebesar betis orang dewasa. Diduga, menurut warga, masih ada berkeliaran Ular Sanca Jantan di Kampung Karangsaritongoh.
“Berdasarkan kabar, ular Sanca Kembang yang tertangkap itu adalah ular peliharaannya orang Kampung Nenggeng. Soalnya, sudah ada yang mengaku 5 bulan kebelakang, ular peliharaannya itu hilang,“ pungkas Heri.(Ilham Amir)***

ILHAM AMIR/GE
ABAH DANA(kanan), memamerkan ular tangkapannya.

Bingung Piobroleun

Written By Garut Express on Saturday, June 1, 2013 | 1:00 AM


Bingung Piobroleun

Jang Uhe apel. Bubuhan kakara boga kabogoh, Jang Uhe jadi geumpeur. Manehna bingung kudu ngobrol naon.
Keur pabetem-betem, kabeneran di luar kadenge hujan.
"Hujan..." omong Jang Uhe.
"Muhun..."tembal kabogohna.
Jempe deui.
Kadenge aya sorang angin tarik, Jang Uhe ngomong deui.
"Angin..."
"Muhun..." jawab kabogohna deui.
Jempe deui.
Angin ti luar nebak ka jero, karasa tiris.
"Tiris..."
"Muhun..."
Jempe deui.
Hujan beuki ngagebret.
"Hujan..." omong Jang Uhe
"Pan atos tadi hujan mah," jawab kabogohna. (Jangs)***


Kanggo Lenyepaneun

Written By Garut Express on Wednesday, May 1, 2013 | 2:31 AM


Kanggo Lenyepaneun

Dulur, urang tiasa nyandak pelajaran ti anu ngageugeuh alam jurig kanggo lenyapeuneun enggoning ngambah kahirupan di alam dunya. Di antarana :

1. Tuyul, najan leutik keneh tapi geus bisa neangan duit sorangan. Eta teh ciri mandiri teu gumantung kana bantuan batur komo bantuan pamarentah mah.

2. Pocong, ti baheula bajuna angger tara gunta ganti. Ciri hirup basajan nu jadi falsafah jelema soleh.
3. Nyi Roro Kidul, sanajan ayana di laut tapi anjeunna mah tara mamake bikini. Sopan we bajuna teh nutupan kabeh orat. Ciri wanoja nu ngajaga kahormatan diri.
4. Jaelangkung, datang tak diundang pulang tak diantar. Ciri tara ngahesekeun jeung nyusahkeun batur.
5. Kuntilanak, rek susah rek senang angger we seuri ngahihi. Ciri manehna mah teu weleh optimis. (Ipay)***


Nomer Mobil

Written By Garut Express on Sunday, March 31, 2013 | 5:48 AM



Nomer Mobil

Kang Memen teh Satpam di hiji perusahaan di Garut Kota. Boga mobil ayeuna mah. Najan mobil kolot, lumayan jagjag. Ari parkirna biasa handapeun tangkal caringin di pakarangan perusahaan tempatna gawe. Hiji waktu mobil Kang Memen aya nu maok. "Dibongkar pantona, Pa. Tiluan bangsatna teh," ceuk tukang es nu biasa nagog di pakarangan perusahaan Kang Memen, hariweusweus. "Naha atuh teu digorowokeun?" ceuk Kang Memen ambek. "Sieun Pa, da sirah abdi ditodong ku pestol. Kapaksa jempe. Mung ari nomor mobilna mah alhamdulillah kacatetkeun, bilih bade lapor ka pulisi," jawab tukang es bari ngasongkeun keretas nu aya nomor plat mobil Kang Memen.

"Belegug siah. Teu kudu dicatetkeun, piraku dewek teu apal kana nomor mobil sorangan," ceuk Kang Memen bari ngababetkeun keretas nu diasongkeun ku tukang es. (Jangs)***

Mihape Manuk

Written By Garut Express on Sunday, March 24, 2013 | 8:48 PM


Mihape Manuk

Kang Uned rek nyaba ka kota, saminggu lilana. Ka anakna nu kakara Kelas VI SD, manehna wanti-wanti mihapekeun manuk kacamata kameumeutna.
"Jang, mihape manuknya," omong Kang Uned ka anakna.
"Alim ah, sieun macok," jawab anakna.
"Moal da manuk bageur," omong Kang Uned.
"Alim, sieun hiber," jawab anakna.
"Moal, da dikurungan, jaba lindeuk."
"Sieun aya nu maok atuh," jawab anakna.
"Sia nu maokna meureun,"omong Kang Uned keuheul, bari ngajiwir ceuli anakna.
"Budak teh meni kedul-kedul teuing," Kang Uned gegelendeng bari terus ngusapan manukna.

Open

Written By Garut Express on Saturday, March 16, 2013 | 8:35 PM



Open

Ceu Tina, urang Garut indit ka Jakarta. Pembantuna ge dibawa harita teh. Basa ngaliwat ka hiji kompleks perkantoran bank, di salah sahiji bank aya tulisan OPEN. "Naha jelema teh nyieun open meni gede-gede teuing? Sagede kumah boluna?" gerentes pembantu Ceu Tina. Teu lila jol aya urang bule rek asup ka bank. "Ulah asup kana open, panas," cek pembantu Bu Tina. Si bule colohok, tapi tetep we asup. Teu lila kaluar urang Negro. "Tuh nya ceuk urang ge tong asup kana open, jadi we tutung," omongna deui. Ceu Tina ukur gogodeg nyaksian pamolah pembantuna kitu teh.*

Huntu Palsu

Written By Garut Express on Thursday, March 14, 2013 | 6:23 PM


Huntu Palsu

HARITA Nini Imih, tatangga Lamsijan, memang kakara dipangmeulikeun huntu palsu ku incuna. Kulantaran teu biasa, biwirna kagokeun keneh. Hayoh we kunyam-kunyem jiga nu keur barang capek. Si Itok tea atuh kabitaan. Teu kaur nempo nu guyam-gayem, langsung nyelengkeung ka indungna. "Ema hayang dahareum anu keur gayem ku Nini Imih!" ceuk Itok bari nyelengkeun ti buruan. Nyi Iting tibuburanjat muru ka buruan. Ma'lum si Itok tea lamun teu buru-buru digugu sok terus ngoceak. "Embi, nuju nuang naon eta teh?" ceuk Nyi Iting ka Nini Imih. "Ah..., teu keur dahar nanaon. Ieu mah kunyam-kunyem teh pedah kagok make huntu palsu pamere icu!" tembal Nini Imih. "Oh..., manawi teh!" ceuk Nyi Iting. "Ujang... kasep, Nini Imih mah teu dahar nanaon. Keur nyobaan huntu palsu!" beja Nyi Iting ka si Itok. "Keun bae Ma... lah huntu palsu ge da rangu meureun!" tembal si Itok merekedeweng. Nyi Iting garo-garo teu ateul. (Budhi JN)***

Tong Nyebut Abah

Written By Garut Express on Sunday, March 3, 2013 | 10:41 PM


Tong Nyebut Abah

Teng manuk teng anak merak kukuncungan. Uyah mah tara tees ka luhur. Kitu ceuk paribasa. Hartina, sifat kolot pasti nurun ka anak. Model Si Itok, anak si Kabayan, lantaran bapana bantangul nya anakna ge bedegong. Harita teh rek ujian.
"Tok, lamun nilai ujian goreng, maneh tong nyebut deui abah ka dewek," ceuk Kabayan.
Si Itok teu ngajawab.
Sanggeus ujian, si Kabayan nanya deui ka si Itok.
"Kumaha nilai ujian teh, Tok, alus?"
Najan asa-asa si Itok ngajawab.
"Eu..eu..goreng Kabayan," ceuk si Itok bari langsung ngaberetek lumpat ka luar.
Si kabayan gogodeg. (Jang)***

Gusti Alloh

Written By Garut Express on Wednesday, February 20, 2013 | 6:16 PM


Gusti Alloh

TEUING kumaha digarawena ari aparat Desa Jeruk Purut. Ceuk beja mah, nepi ka danget ieu loba keneh program anu teu cumpon, utamana di widang pangajaran. Malah, program anu dua taun ka tukang acan oge diparigawe. Teu aneh lamun Sekdes Jeruk Purut, Kang Ali, hayoh gegeleneng. "Cik, kumaha sual pangwangunan sakola teh masalahna. Naha bet can rengse wae?" ceuk Kang Ali waktu mingpin rapat di bale desa. Anu ditanya, Kang Olon, ukur 'ak... 'ik...'uk. "Euh.... euh... euh. Anu Kang Sekdes...," walon Kang Olon teu kebat, bari beungeutna reup geuneuk ray pias. Sabab teu boga alesan anu eces keur nyingcet tina pasualan. "Kang Olon mah loba wae alesan. Ieuh da moal aya pagawean anu rengse ukur ku nepikeun alesan. Kudu kumaha deui atuh ieu teh. Maenya ari kudu dilaporkeun ka Gusti Alloh mah!" ceuk Kang Ali bari molotot. Kang Olon ukur tungkul. (Budhi JN)***

Ojeg

Written By Garut Express on Monday, February 11, 2013 | 7:25 PM


Ojeg

Jang Henhen tukang ojeg di Kampung Panyosogan, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibat. Hiji waktu kadatangan pemuda.
Pemuda : Nuju ngojeg Kang?
Jang Henhen : Muhun. Bade ka mana? Hayu..!
(Henhen geuwat ngahurungkeun motorna)
Pemuda : Upami ka Pasar Cibatu sabaraha?
Henhen: Lima rebu
Pemuda : Upami ka kantor Desa  Wanakerta sabaraha?
Henhen: Ka dinya mah mung tilu rebu
Pemuda : Upami ka Pasirjengkol tah... sabaraha?
Henhen: Eta mah rada jauhnya. Sapuluh rebulah. Ke ari akang rek ka mana? Rek naek ojeg atawa ukur rek nanyakeun?
Pemuda : Naroskeun we Kang da abdi bade ngojeg di dieu. Enjing ngawitanana.
Henhen : Kasebelan...(gerentes Henhen bari mareuman deui motorna)
(Budi)***

Untung

Written By Garut Express on Sunday, February 3, 2013 | 7:59 PM


Untung

Ieu pangalaman urang Cibatu. Jang Udan (samaran) kukurilingan make motor anyar kiriditan. Nyobaan mesin sakalian diajar, pokna. Jeung enyana, Jang Udin can tapis pisan kana motor, malum unggal poe gawenan ukur ka sawah atawa ka kebon. Di hiji tikungan anu jalanna garekgok, motor Jang Udin nolonjong nu saterusna nabrak si ibu nu keur leumpang. Si ibu ngajerit bari labuh, Jang Udin ge ngajorowok bari ngajurahroh. Jang Udin geuwat hudang moro si ibu. Ningali si ibu ukur barabak, Jang Udin bungah.
"Aduh Bu untung ukur barabak..." omongna.
Rupana wae si ibu ambek disebut untung ku Si Udin. Teu antap warah, pipi si Udin digaplok tarik pisan. Plak!
"Ibu meni nyabok sagala, da teu kahaja," omong si Udin bari nyagapan pipi.
"Untung sia ge ukur digaplok, lamun dilaporkan ka pulisi, sia pastina dikerem," ceuk si ibu. (Jang)***

"Kang, di Bumi Neng Ayeuna Teu Sasaha"

Written By Garut Express on Thursday, January 31, 2013 | 6:35 PM







 "Kang, di Bumi Neng Ayeuna Teu Sasaha"

Di Garut Express aya wartawan bujangan keneh. Sebut we Beben. Kabogohna urang Wanaraja. Hiji poe manehna ditelepon ku doina.

"Kang Beben, di bumi Neng ayeuna sepi, teu aya sasaha," ceuk kabogohna.
Lakadalah, gerentes Beben.

"Naha nuju ka marana Neng?" tanya Beben api-api.
"Nuju ka Barandung"

"Aruihna iraha?" tanya Beben deui.
"Pageto," jawab Neng.

Ngarasa aya kasempetan, Beben geuwat nutup hpna. Geus kitu langsung ngadius ka imah Neng.
Enya we imah Neng sepi. Malah hordengna ge narutup.

Beben geuwat ngontak Neng. "Neng, Kang Beben kedah jalan mana?"
"Jalan mana ku maha?"

"Muhun ieu Kang Beben tos aya di payuneun bumi Neng," ceuk Beben.

"Bade ka saha Kang Beben ka bumi? Pan teu aya sasaha, abdi ge ngiring ka Bandung," ceuk Neng. (Budi)***

Ngiring Ngalangkung

Written By Garut Express on Tuesday, January 22, 2013 | 6:02 PM





Ngiring Ngalangkung

Mang Dadang warga Selaawi, boga gawe di daerah Holis, Kota Bandung. Lamun indit gawe, manehna biasa ngagunakeun elf jurusan Garut-Terminal Leuwipanjang nu biasa make jalan tol. Hiji waktu, Mang Dadang indit ka tempat gawena make motor anyar meunang ngiridit. Lantaran kabiasaan make elf jeung teu nyaho jalan lain deui, harita ge manehna langsung asup ka jalan tol. Di lawang tol, kasampak aya pulisi keur patroli. "Punten Pa ngiring lebet ka tol, abdi bade ka Holis," omong Mang Dadang bari ngagerung-gerung motorna. Pulisi kerung. "Ari emang kurang saeundan atawa nekad, pan motor mah teu bisa asup ka tol," ceuk pulisi. Harita keneh Mang Dadang diamankeun. (Farhan)***

Pulsa

Written By Garut Express on Wednesday, January 16, 2013 | 7:25 PM


Pulsa

Bi Iwok teh pembantu di imah Dadang. Geus kolot jeung teu kungsi sakola. Hiji waktu manehna dititah meuli pulsa elektrik ka konter di peuntaseun jalan. "Bi, punten tulungan, pangmeserkeun pulsa elektrik nu 20 rebu. Tah ieu nomorna jeung artosna," ceuk Dadan bari mikeun duit jeung keretas nu aya tulisan nomor HPna. Bi Iwok langsung indit. Tapi geus ampir tilu jam Bi Iwok teu balik deui, padahal pulsa mah ti tatadi ge geus asup. "Kamana atuh Bi Iwok teh, pikahariwangeun bae?" ceuk Dadan ka pamajikanana. Kapaksa Dadan indit ka konter nyusulan Bi Iwok, hariwang bisi kumaha onam. Barang srog teh, kasampak Bi Iwok keur cingogo we handapeun etalase. "Ari bibi naha bet teras cicing handapeun etalase? tanya Dadan. "Apan nuju nungguan pulsa Cep, tukang pulsana teu acan masihkeun wae ka Bibi," jawab Bi Iwok. Dadan gogodeg. "Tos we mulih yu, keun pulsa mah sina asak heula. Nuju digoreng keneh," ceuk Dadan bari nahan piseurieun. (ES)***

Siki Salak

Written By Garut Express on Saturday, January 12, 2013 | 5:27 PM

Siki Salak

HIJI mangsa Kang Atim Keur anteng nguseup di wahangan. Ngan wae, ti wanci carangcang tihang nepi ka dur lohor, najan Kang Atim geus luut leet kesang, can aya keneh lauk nu daekeun nyanggut kana eupanna. Tara-tara ti sasari memang. Padahal biasana mah eupan meunang ngoplos Kang Atim mah clom giriwil. "Nyamos keneh, Kang?" ceuk Jang Ata. "Kadeuleuna!" tembal Kang Atim teugeug bari jamedud. "Salah eupan atuh Kang. Dina cai kiruh kieu mah atuh eupanna ulah ku cacing!" Jang Ata ngayakinkeun. "Kudu ku naon atuh?" Kang Atim panasaran. "Cobian ku siki salak ngora gera!" ceuk Jang Ata. "Na bakal nyanggut kitu?" Kang Atim asa teu percaya. "Nya... moal atuh! Cacak ku cacing ge teu dihakan. Komo ku salak ngora!" ceuk Jang Ata bari ngabecir. Kang Atim beuki medenghel. (Budhi JN)***

Adi Beuteung

Written By Garut Express on Thursday, January 10, 2013 | 8:49 AM






Adi Beuteung

Hirup rumah tangga mah, salaki jeung pamajikan pasti aya pakterok. Model Nyi Emeh jeung Jang Kardun. Ti peuting keneh maranehna pasea. Jang Kardun kapaksa sare di tepas, Nyi Emeh ge kapaksa sare sorangan. Tapi lantaran ngarasa ngagarap kebon perlu dianggeuskeun, isukna isuk-isuk keneh duana arindit. Bareng inditna teh. Ngan da keur pasea, duana pada jarempe bari baraeud. Rek nepi pisan ka kebon, Jang Kardun jeung Nyi Emeh ninggali puluhan embe di tegalan. Bubuhan keur ambek, Jang Kardun jol ngomong. "Tah eta nu ditegalan adi-adi maneh, Emeh," omongna. "Enya, adi beuteung," jawab Nyi Emeh. (*)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Garut Express - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger