Latest Post

Showing posts with label Pasar Raya. Show all posts
Showing posts with label Pasar Raya. Show all posts

Kenari, Burung Cantik Berprosfek Bisnis

Written By Garut Express on Wednesday, December 11, 2013 | 8:44 PM


SELAAWI(GE),
Burung Kenari memiliki fans yang cukup banyak dan fanatik, dikarenakan suaranya merdu serta warna bulu yang indah dan bervariasi.  Dikalangan pecinta burung, Kenari adalah salah satu jenis yang wajib dimiliki. Selain memanjakan telinga juga bisa mengangkat gengsi pemiliknya jika menang dalam kontes.
Melihat hal tersebut maka tidak heran jika bisnis Kenari sekarang ini sedang mewabah, bahkan hingga kepedesaan. Kesempatan bisnis Kenari terbuka lebar, banyak pecinta burung rela mencari sampai ke luar kota untuk mendapatkan Kenari kualitas terbaik.
Oby, peternak Burung Kenari asal Selaawi telah menggeluti bisnis ini selama tiga tahun. Pada awalnya ia hanya memiliki dua indukan saja, sekarang bisnisnya telah berkembang dan memiliki empat puluh indukan Kenari.
Dari 40 indukan kenari, Oby bisa meraup untung sekitarempat juta rupiah setiap bulannya. Rata-rata pembeli mencari bibit unggul, jenis yang banyak dicari adalah Merlok (merah lokal). Untuk jenis ini harga anakan yang baru berumur 2 bula bisa mencapai Rp. 250.000, sedangkan anakan Kenari yang warna biasa harganya  berkisar pada angka Rp.150.000.
Selain anakan Oby juga menjual indukan, harga indukan berkisar antara satu juta hingga satu juta setengah. “tergantung warnanya,jenis redblack bisa mencapai dua juta harganya,” katanya. Sekarang ini pelanggan bisnisnya tidak hanya dari Kota Garut tetapi juga dari Bandung dan Sumedang.
“Sekarang ini saya malah kewalahan melayani pesanan yang datang,” ujarnya. (USEU)***

Harga Beras, Telur dan Tomat Naik


Memasuki musim hujan, harga sayur mayur cenderung stabil. Sedangkan harga beras, telur ayam negeri dan tomat mengalami kenaikan. Harga sayur mayur yang mengalami kenaikan hanya terjadi pada tomat, yang naik Rp 1.000 per kilogram (kg) dari Rp 7.000 menjadi Rp 8.000 per kg. Menurut para pedagang kenaikan sudah terjadi selama seminggu.
Tak hanya tomat, harga beras juga naik, dengan kenaikan tertinggi dialami oleh beras kelas premium mencapi Rp 1.500 per kg. Kenaikan yang terjadi cukup tinggi untuk beras kelas premium. Biasanya Rp 6.900 sampai Rp 7.300 per kg, sekarang naik Rp 1.500 per kg.
Kenaikan tersebut disebabkan oleh datangnya musim hujan yang membuat petani gagal panen. Sedangkan untuk pasokan saat ini masih terbilang aman.
"Kemungkinan masuk musim hujan orang gagal panen jadi stok beras agak kurang. Untuk pasokan kami ikut yang di sana (distributor), Alhamdulillah lancar. Hanya masyarakat mengeluhkan kualitasnya," tutur salah seorang pedagang.
Selain beras dan tomat, harga telur ayam negeri juga naik. Harga telur naik dari semula Rp 15.000 per kg menjadi Rp 16.500 per kg. Sementara untuk harga cabai merah keriting tetap bertahan di kisaran Rp 30.000 -35.000/kg dan cabai rawit Rp 25.000/kg.

Kopi Boehoen, Kopi Lokal Kualitas Ekspor

Written By Garut Express on Saturday, December 7, 2013 | 12:44 AM


MALANGBONG, (GE).-
Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi. Kopi Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga terbesar di dunia dari segi hasil produksi. Fakta tersebut, Agus M. Noer melihat kesempatan bisnis di bidang kopi.
Pria keturunan padang yang sekarang menetap di Malangbong ini, sedang mulai merintis usaha produksi kopi. Sebenarnya Agus sudah tiga tahun bergelut di dunia kopi, hanya saja selama tiga tahun ini lebih fokus menjual biji kopi arabika untuk di ekspor. Karena musim kopi di Indonesia hanya 3 bulan dalam setahun, maka Agus memutuskan untuk berkecimpung dibagian produksi kopi.
Produksi kopi milik Agus masih skala rumahan, produksi dilakukan di rumahnya yang terletak di Kampung Panyindangan, Desa Sukaratu, Kecamatan Malangbong. Untuk saat ini Agus baru memiliki dua pekerja, kopi hasil produksinya diberi nama kopi boehoen, baru dipromosikan ke rekan dan kenalan saja.
Kopi yang diproduksi Agus adalah jenis kopi arabika. Ada dua macam kopi yang di produksi yaitu premium dan peaberry. Kopi premium dibanderol Rp. 25.000 untuk setiap 100 gramnya sedangkan peaberry Rp. 50.000 per gram. Kopi yang diproduksi Agus semuanya berasal dari Garut, kualitas biji kopi untuk kopi boehoen sama dengan biji kopi yang biasa di ekspor.
“untuk saat ini saya masih meraba-raba rasa yang diminati oleh masyarakat Garut,” ujarnya kepada GE.(SRI)***

Peletakan Batu Pasar Limbangan Berjalan Lancar

Written By Garut Express on Wednesday, November 27, 2013 | 10:47 PM


LIMBANGAN (GE)
Proses revitalisasi pasar Limbangan telah resmi dilaksanakan, hal ini ditandai dengan adanya acara peletakan batu pertama, Selasa, (19/11). Peletakan batu pertama ini seharusnya dilakukan oleh bapak Bupati,namun dalam hal ini diwakili oleh bapak Asda satu.
Acara tersebut dihadiri juga oleh jajaran Kapolres Garut, Kadis Perdagangan Garut Bapak Eko Yulianto,Direksi CV Elva Primandiri yaitu Ibu Elva Waniza, yang berperan sebagai pengembang pada proyek ini. Serta dihadiri pula oleh segenap tokoh dari berbagai unsur masyarakat dan para pemilik kios dipasar Limbangan.
Dalam sambutannya, Eko Yulianto sebagai Kadis Perdagangan mengemukakan bahwa proses pembangunan Pasar Limbangan direncanakan akan selesai dalam waktu lima belas bulan,namun pihak pengembang akan berupaya semaksimal mungkin sehingga ditargetkan selesai sebelum lebaran tahun depan. Pembangunan Pasar Limbangan yang menelan biaya 60,8 milyar  ini nanti akan dibagi menjadi beberapa los atau kios yang penempatan dan biyayanya akan diatur secara teknis oleh pengembang yaitu CV Elva primandiri sesuai kesepakatan yang telah dibuat.
Dirut CV Elva Primandiri, Elva waniza, menyebutkan bahwa segala keluhan dari para pedagang adalah hal yang biasa dalam sebuah proses pembangunan pasar.
“Segala sesuatu yang menyangkut pembangunan pasar sudah selesai melalui sosialisasi dan sudah terjadi kesepakatan. Mulai dari harga los kios sampai bentuk atau model pasar, manajemennya sudah digambarkan oleh pengembang kepada warga pasar Limbangan. Sosialisasi sudah dilakukan sebanyak tiga kali, artinya sudah tidak ada lagi permasalahan antara pihak pengembang dengan warga pasar. Adapun demo yang terjadi dipasar Limbangan, itu adalah warna warni dalam proses pembangunan sebuah pasar, toh nantinya mereka akan merasakan keuntungan yang lebih besar dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Menurut Elva, saat selesai dibangun nanti, meski pemilik kios tidak menempati kios mereka, oemilik kios akan tetap mendapat keuntungan berlipat dengan menjualnya kembali.
Pihak pengembang telah mengupayakan subsidi harga los, yang tadinya 12 juta sekarang menjadi 9,5 juta.
Elva menyebut pasar Limbangan sebagai pasar seksi, karena mendapatkan subsidi, dan sangat strategis dibanding pasar lain. Elva menambahkan bahwa pihak pemerintah sedang mengupaya subsidi sehingga tidak memberatkan para padagang. Oleh karena itu, pihak pengembang berharap agar warga tidak terlalu mengedepankan hal-hal yang sifatnya kontra terhadap proses pembangunan Pasar Limbangan,agar proses pambangunan berjalan lancar.
Dari 1031 kios yang akan dibuat, pihak pengembang berjanji akan mengedepankan putera daerah, meskipun sebagian akan diberikan kepada pihak luar. Tetapi itu hanya sebagai bentuk penerapan hak pengembang, tanpa mengurangi ataupun mengambil hak dari putera daerah.
Lingkungan pasar Limbangan nantinya akan dilengkapi bangunan kantor Dishub,UPTD, dan kantor Pengembang yang bertujuan membantu penataan Pasar Limbangan agar lebih baik.
CV Elva Primandiri akan mengatur pasar Limbangan selama 20 tahun kedepan. Mulai dari kebersihan, keamanan,serta siap melayani segala keluhan keluhan dari warga pasar. Hal tersebut akan diwujudkan dengan cara menjalin kerjasama dengan putera daerah, dengan catatan putera daerah yang profesional dan mempunyai potensi pada bidangnya. (USEU)***

USEU/GE
KADIS perdagangan Kab.Garut beserta Direksi Cv Elva Primandiri sedang melihat maket Pasar limbangan.

Sekolah Incaran Para Pedagang Kaki Lima

Written By Garut Express on Wednesday, November 20, 2013 | 10:48 PM


Garut, (GE).-
Ratusan siswa yang berada di sekolah membawa berkah tersendiri bagi kalangan pedagang kaki lima. Hampir di setiap sekolah kita dapat menjumpai pedagang kaki lima. Para pedagang kaki lima yang sering berjualan di dekat sekolah tidak perlu capek-capek berkeliling dari kampung ke kampung untuk meraup rupiah. Mereka cukup berjualan di sekitar sekolah dan jualannya akan laris manis.
Sebut saja di SDN Cigawir, SDN Neglasari 2, dan SMK PGRI Selaawi. Di komplek luar sekolah tersebut, penuh dengan deretan pegadang kaki lima. Para pedagang kaki lima sejak pagi, sebelum para siswa datang biasanya sudah bersiap menggelar berbagai barang jualan, seperti cilok, es campur, makanan ringan,manisan, stiker dan aneka aksesori. Hasilnya memang luar bisa, para pedagang itu dikerumuni siswa sejak pagi hingga menjelang siang.
Menurut salah seorang pedagang, Dadang (38), mengaku berjualan dihalaman sekolah lebih mudah karena selain tidak perlu berkeliling mencari pelanggan, ia juga bisa sambil beristirahat.
Sementara itu, Eka (17),  salah seorang siswa SMK PGRI Selaawi, mengatakan dirinya bersama teman-temannya sengaja jajan jajanan di luar kantin, selain sudah berlangganan, ia juga sudah terbiasa jajan jajanan di luar sekolah, pungkasnya. (Dian)***

Warga Pasar Limbangan Meminta Keadilan

Written By Garut Express on Tuesday, November 19, 2013 | 7:13 PM

LIMBANGAN, (GE).-
Ratusan pedagang dan pemilik kios serta los di Pasar BL.Limbangan meminta keadilan dari pihak pemerintah dan pihak pengembang.
Pasalnya selain omset pendapatannya menurun jika harus bertahan berjualan di lokasi penampungan juga ketidakjelasan mengenai masalah pembangunan pasar yang akan mereka tempati.
Warga merasa dibohongi oleh pemerintah dan pihak pemborong karena mereka tidak diajak berdiskusi masalah pembangunan. Warga pasar merasa terbodohi oleh pihak pemerintah dan dari pihak pengembang.
Sampai saat ini, tidak ada yang terjalin kesepakatan diantara warga pasar, pengembang dan pengusaha, semenjak sosialisasi pertama, kedua, sampai rapat muspida dan terakhir rapat dengan PT pengembang.
“kami tidak mendapatkan salah satu kesepakatan tentang masalah pembangunan, makanya kami melakukan pemasangan sepanduk ini sebagai bentuk anpirasi kami ketika kami merasa tidak adil teradap kami yang terwakili,” kata salah satu warga.
“Yang jelas kami menolak rencana renovasi atau perbaikan karena khawatir tidak mampu membayar sewa rumah toko (Ruko) atau tempat lainnya,” ujar rizal, pedagang pakaian, di Pasar Limbangan, Garut.
Aksi protes dan keberatan ratusan pedagang maupun pemilik kios serta los dilakukan dengan membentangkan spanduk "KAMI PEDAGANG PASAR LIMBANGAN MENOLAK KEBIJAKAN PT ELVA PRIMANDIRI YANG MERUGIKAN WARGA PASAR LIMBANGAN", diatas gedung pasar. Mereka beranggapan keadilan tidak berpihak pada mereka dan merasa dibodohi.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Limbangan (P3L), Babay, mengaku bahwa semua pedagang yang jumlahnya mencapai 1500, merasa di rugikan oleh pihak pemerintah dan pengembang, karena renovasi pasar mereka takut  kehilangan pelanggan serta pendapatan berkurang.
“Kondisi pasar sekarang ini, tambah dia, terbilang sepi apalagi nanti direnovasi dan pedagang menempati kios penampungan sementara bisa-bisa malah calon pembeli atau pelanggan tak mau datang ke pasar ini,” Pungkasnya (DIAN)***

DIAN/GE
WARGA Pasar Limbangan memasang spanduk sebagai bentuk protes.

Kisruh Pasar Limbangan Harga Kios Kemahalan Atang Nekat Bertahan

Written By Garut Express on Wednesday, November 6, 2013 | 11:48 PM

Pedagang Pasar Limbangan, ATANG Setiawan (55) :
"Saya pikir ini ada permainan pengusaha sebagai pengembang revitalisasi Pasar Limbangan. Tolong jangan korban rakyat kecil. Saya harap bupati jangan tinggal diam melihat permasalahan ini,"

LIMBANGAN, (GE).-
Meski sebagian besar penghuni Pasar Limbangan yang lama telah pindah, namun ada seorang yang masih bertahan di kios lamanya. Pedagang yang nekat itu bernama Atang Setiawan (55), pedagang perabotan rumahtangga yang sudah berjualan sejak tahun 1979 di Pasar Limbangan.
Atang mengaku, dirinya tak mau menempati Tempat Pasar Sementara (TPS) karena kondisinya tak memadai untuk berjualan di sana. Menurut Atang, selain lokasi TPS sempit, kios sementara juga tak memadai untuk berjualan. Bahkan kondisi keamanannya pun sangat mengkhawatirkan.
Belum lagi kata Atang, harga yang ditawarkan oleh pengelola pasar terlalu mahal untuk ukuran pasar yang ada di kecatan. "Masa Pasar Limbangan harganya disamakan dengan pasar yang ada di kota-kota besar. Saya harap pemerintah segera turun tangan atasi masalah ini. Jangan berpihak kepada pengusaha lihat nasib rakyat kecil seperti saya," sesal Atang, Selasa (29/10).
Masih menurut Atang, harga kios di Pasar Limbangan ini terlalu mahal. Harga di Pasar Malangbong saja, 4,2 juta/m2 kenapa di pasar limbangan jadi 10,5 juta/m2. Menurutnya ia tak akan pindah ke TPS sebelum ada kejelasan harga yang layak bagi dirinya.
"Saya pikir ini ada permainan pengusaha sebagai pengembang revitalisasi Pasar Limbangan. Tolong jangan korban rakyat kecil. Saya harap bupati jangan tinggal diam melihat permasalahan ini," harapnya.
Diberitakan sebelumnya, setelah menuai pro dan kontra antara pengembang dan pedagang akhirnya kata sepakat berhasil mencapai titik temu. Hal itu,  setelah persetruan panas antara Pedagang Pasar Limbangan dan PT. Elva Primandiri mereda dan menuai kata sepakat pada sore hari Rabu (9/10). Pedagang pun mulai satu persatu pindah menempati TPS.
Kini hampir semua pedagang di Pasar Limbangan telah di relokasi ke Tempat Pasar Sementara (TPS) yang berlokasi di Lapang Pasopati, Desa Limbangan Tengah, Kecamatan Limbangan. Namun, setelah pindah ke TPS, mereka mengeluhkan sepinya pembeli. Maklum saja, TPS yang ditempati para pedagang ini, tempatnya menjorok ke dalam dari Jalan Raya Limbangan. Selain itu, area TPS yang sempit membuat pengunjung malas berbelanja di sana.
Selain dikeluhkan para pedagang yang dulu menduduki Pasar Limbangan yang kini sedang direvitalisasi, pemindahan pasar ke Lapang Pasopati juga, dikeluhkan warga sekitar. Kondisi jalan yang sempit ditambah hilir mudiknya pedagang dan pembeli di sana, membuat suasana lingkungan menjadi kotor dan gaduh. Bahkan kemacetan kendaraan di jalan menuju TPS yang hanya masuk satu kendaraan roda empat itu tak bisa lagi terelakkan.
Revitalisasi Pasar Limbangan yang akan dibangun oleh PT. Elva Primandiri, dijadwalkan akan selesai sebelum Ramadhan Tahun 2014 yang akan datang. Revitalisasi itu, sesuai Surat Keputusan Bupati Garut No. 511.2/Kep. 315 – Dp4/2013 tanggal 7 Juni 2013. Rencananya, Pasar Limbangan, akan dibangun tiga lantai. (Farhan SN)***

FARHAN SN/GE
ATANG Setiawan (55) pedagang yang masih bertahan di Pasar Limbangan.

USAHA MOKAS ( MOTOR BEKAS ) MENJANJIKAN

Written By Garut Express on Monday, September 2, 2013 | 12:10 AM

KOTA, (GE).-
Motor bekas yang lazim disebut mokas adalah salah satu alternatif akan kebutuhan transfortasi saat ini. Apa lagi, disaat kenaikan harga BBM dan kenaikan nilai tukar dolar yang berakibat naiknya uang muka untuk kendaraan baru. Geliat pertumbuhan motor bekas di Garut untuk saat ini mengalami pertumbuhan yg sangat pesat.

PD Jaya Raya Motor adalah salah satu perusahaan yg bergerak di bidang motor bekas yang berada di Garut, tepatnya di Jalan Raya Otista nomor 195 Tarogong. Asep  Ruhimat (asep loudrses), sebagai pemilik perusahaan tersebut mulai merintis usahanya sejak sejak thn 2OOO.

Di awali dengan hanya mempunyai aset 4 motor saja, saat ditemui di tempat kerjanya, Asep mengaku untuk menjual motor bekas bukan di lihat dari tahun pembuatan tapi dilihat dari kualitas barang tersebut. Jenis motor bekas yang dipasarkan Asep, tidak khusus menjual brand 1 merk motor saja. Akan tetapi, dari berbagai jenis  merk dan type seperti motor Yamaha, Honda, Suzuki merk produk keluaran china pun ia pasarkan.

saat ini Asep biasa memasarkan 20 unit motor bekas tiap bulannya dengan dibantu 4 orang karyawan. Adapun kendala yang dihadapi, kurangnya permodalan yang ia miliki saat ini. Sementara pemintaan akan kendaraan motor bekas kian hari semakin meningkat.

Untuk memperluas pemasaran, Asep, membuka jaringan diseluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Garut. Stok yang ada di showroomnya saat ini adalah, Yamah Bison thn 2011 dijual dengan harga 16,5jt, vario th 12 putih harga jual 11,75jt, beat 12,11 bdg, FU 2010 bdg 15jt, Mio thn 2011 merah 8,5 jt, Mio GT thn 2012 ungu 10,25. Bagi yang berminat langsung datang ke showroom Asep Loudres. (Dedi Hs)***

Kelangkaan Gas 3 Kg Masih Terjadi

CARINGIN, (GE).-
Kelangkaan gas elpiji 3 kg, pada saat hari raya lebaran, ternyata berkepanjangan hingga hari ini. Di wilayah Garut Selatan, hingga sekarang, warga masih kesulitan mendapatkan gas bercat hijau tersebut.

Kelangkaan tersebut, menyebabkan harganya terus melambung. Harga gas elpiji ini berada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 40.000/tabung. Seperti di Ke­camatan Caringin, harganya menembus angka Rp 40.000/ tabung.

Kondisi tersebut terjadi sejak pertengahan Ramadan lalu, dan makin menggila saat tiga hari sebelum lebaran hingga dua hari pasca Idul Fitri. Bukan hanya gas elpiji kemasan ta­bung 3 kg saja, bahkan kemasan tabung 12 kg pun sempat menghilang dari pasaran. Kondisi itu, tak kunjung selesai meski lebaran sudah berlalu sebulan yang lalu.

Dampak dari melambungnya harga gas elpiji ini sangat dirasakan oleh warga yang ekonominya rendah. Mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli gas elpiji. Mereka yang biasanya mengeluarkan uang Rp 15.000/ minggu untuk keperluan gas, kini harus mengeluarkan uang Rp 40.000.

"Awis oge ari aya barangna mah teu janten masalah. Ieu mah barang na oge teu aya," keluh Jajang (48) warga Kam­pung Gunung Geder, Desa Cijambe, Kec. Cikelet.

Keluhan serupa dilontarkan Aas Ahmad Mutaqien (54), warga Kampung/Desa Cibiuk. "Sekarang sih sudah mulai turun, antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per tabung. Kemarin-kemarin harga gas elpiji 3 kilogram sempat mencapai Rp 50.000," katanya. (Farhan SN)***

Produsen Tahu Terancam Gulung Tikar

KADUNGORA, (GE).-
Sejumlah pemilik pabrik tahu dan tempe di Kabupaten Garut untuk sementara terpaksa menghentikan produksi. Hal ini dilakukan menyusul terjadinya kenaikan harga yang cukup tinggi terhadap bahan baku berupa kedelai.

Beratnya dampak dari kenaikan harga kedelai, di antaranya dirasakan oleh para pemilik pabrik tahu dan tempe yang ada di kawasan Kampung Bojongbungur, Desa Mandalasari, Kecamatan Kadungora. Akibatnya, untuk menghindari terjadinya kerugian, mere­kapun mulai beberapa hari terakhir ini terpaksa berhenti ber­produksi. Di daerah ini, terdapat sedikitnya 11 pabrik yang berhenti berproduksi.

Salah seorang pekerja di salah satu pabrik tahu di ka­wa­san Kampung Bojong­bu­ngur, Asep Abah (45) menyebutkan, sejak tiga hari yang lalu majikannya memerintahkan untuk menghentikan produksi. Tidak jelas sampai kapan pemberhentian produksi itu dilakukan. Hanya yang jelas menurut majikannya, menunggu sampai harga kedelai turun kembali.

"Sudah tiga hari saya terpaksa tidak bekerja karena pabrik tahu dan tempe tempat milik majikan saya untuk sementara menghentikan produksi. Hal ini akibat terjadinya kenaikan harga kedelai yang saat ini mencapai Rp 10.000 per kilogramnya," ujar Asep, Minggu (25/8).

Menurut Asep, majikannya itu merasa berat jika terus harus berproduksi dengan harga kedelai yang mahal seperti saat ini. Makanya daripada rugi, majikannya memilih menghentikan produksi hingga harga kedelai kembali normal.

Menurut Asep, dengan ber­hen­tinya produksi, maka diri­nya bersama sejumlah rekannya kehilangan mata pencaharian. Namun dia mengaku tidak bisa berbuat banyak karena memang kalaupun tetap dipaksakan untuk produksi, majikannya bisa bangkrut.

Sejak tiga hari terkahir ini, Asep dan para pekerja pabrik tahu dan tempe ini memang masih datang ke pabrik. Namun di sini mereka hanya bergerombol sambil ngobrol membahas nasib mereka jika sampai pabrik tempat mereka mencari nafkah ini tidak berproduksi dalan waktu yang lama bahkan lebih parahnya sampai tutup untuk selamanya.

"Jika sampai pabrik ini tutup, saya sangat bingung. Saya tidak punya keahlian lain selain membuat tahu dan tempe, sehingga saya tak tahu lagi harus mencari pekerjaan apalagi agar bisa menafkahi keluarga," tutur ayah dari empat orang anak ini.

Sementara itu Ujang Rustandi (39), salah seorang pemilik pabrik tahu mengatakan, sebelumnya harga kedelai berkisar antara Rp 7.000 – Rp 7.500/kg. Namun belakangan ini harganya mencapai Rp 10.000/kg.

Diterangkan Ujang, pekan lalu harga kedelai mengalami kenaikan menjadi Rp 8.000 – Rp 8.400/kg. Akibatnya, banyak pemilik pabrik tahu dan tempe yang terpaksa menaikan harga jual tahu untuk menghindari kerugian. Tahu yang semula harganya Rp 400, saat itu naik menjadi Rp 425/biji dan hal itu telah mendapat reaksi dari para pelanggan dan konsumen lainnya yang mengaku keberatan.

"Terus kini masa kami harus kembali menaikan harga tahu, sedangkan yang kemarin saja telah mendapat protes dari pelanggan. Makanya, saya putuskan untuk berhenti dulu produksi tahu," ucapnya. (Farhan SN)***

Cuaca tak Menentu Petani Jahe Merugi

PAKENJENG, (GE).-  
Petani jahe mengeluhkan hasil panennya pada musim ini. Mereka mengaku alami kerugian yang cukup besar akibat gagalnya musim panen jahe mereka. Gagalnya panen jahe tersebut, diduga karena kondisi cuaca yang tak menentu tahun ini.
  
Salah seorang petani, Wawan (52), mengaku saat ini panen jahenya sedang mengalami kegagalan. Wawan menduga, kegagalan itu, diakibatkan cuaca yang tak menentu. Sehingga tanaman jahenya diserang oleh hama semacam ulat.
  
Kendala kegagalan panen ini, kata Wawan , dikarenakan banyaknya hama, ulat, cacing dan daun batangnya kering kusam. Ditambah lagi harga jual jahe saat ini sangat anjlok. Petani yang dulu membeli untuk bibit yang mereka tanam sebesar Rp 10 ribu tiap kilo gramnya, sekarang harga jahe yang di jual hanya laku Rp 2.700 tiap kilo gramnya.
  
Kegagalan panen ini bukan hanya kali ini saja, Iwan mengaku, hampir setiap musim sering merugi. Biasanya kalau menanam jahe satu kwintal kalau dengan cuaca yang menentu biasanya jadi 1 ton. Tapi dengan cuaca yang tak menentu dan penyakit menyerang hanya jadi 4 kwintal.

Sedangkan pupuk yang harus dibeli begitu besar biayanya. Ditambah lagi, medan yang harus mereka tempuh dari pelosok menuju jalan yang menghubungkan desa ke kota begitu jauh, dan harus mengeluarkan lagi modal untuk buruh angkut. Petani di daerah pakenjeng hanya bisa pasrah dengan keadaan yang mereka alami saat ini.
  
Petani lainnya, Kardin (43), mengaku ia mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. Meski begitu, ia hanya bisa pasrah menerima keadaan itu. Namun ia masih berharap, bantuan dari pemerintah untuk permodalan agar ia bisa bercocok tanam lagi.

"Saya harap, pemerintah segera turun tangan atasi kerugian yang petani alami. Mungkin penyuluhan cara bercocok tanam jahe yang baik dan suntikan permodalan, akan sangat membantu kerugian usaha yang telah dialami petani jahe di Pakenjeng," pungkasnya, Kamis (29/8). (Ulum)***

Pasokan Alpukat Berkurang Harganya Terus Melambung

BANYURESMI,(GE).-
Karena belum memasuki masa panen hingga sulit ditemui di pasaran, harga buah Alpukat saat ini melambung tinggi. Jika biasanya dijual seharga Rp 10 ribu per kilogram, saat ini harganya menjadi Rp 15 ribu per kilogramnya, Kamis (29/8).

Lilis (65), penjual alpukat di Kampung Lempong, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi, mengungkapkan kenaikan harga alpukat tersebut terjadi karena kurangnya pasokan barang dari petani. Padahal, permintaan buah ini cukup tinggi khususnya dari rumahkan dan lestoran.

“Untuk saat ini harganya melambung dipasaran, karena barangnya tidak ada. Ada juga petani yang mengirim barang, langsung diburu sama penjual yang lainnya,” ujarnya.

Lilis menuturkan, kurangnya barang untuk saat ini, membuat penjualan alpukat cukup tinggi meski harganya saat ini terbilang mahal. Hal tersebut dikarenakan, kurangnya barang dipasaran. Pembelinya sendiri, sampai saat ini didominasi oleh penjual es campur, rumah makan dan lestoran.

“Meski harganya mahal, tapi penjualannya cukup bagus. Karena memang saat ini barangnya masih kurang dipasaran dan tidak ada pengiriman dari luar Garut. Karena, didaerah lain juga sama kekurangan barang,” katanya. Lilis mengaku, saat ini dirinya mengandalkan pasokan alpukat dari para petani lokal yang ada tidak jauh dari tempatnya berdagang.

Agus (40) salah satu petani alpukat yang di Kampung Lempong Desa Sukaraja menjelaskan, kurangnya alpukat dipasaran saat ini karena belum musim panen. Biasanya musim alpukat terjadi dibulan April dan sudah terlewati. Makanya, saat ini adalah memang saat susah mencari buah alpukat. Jika ada, biasanya barang banyak dikirim ke luar kota.

Agus mengaku, di kebunnya, memang ada beberapa pohon alpukat yang berbuah dan siap dipanen. Namun, jumlahnya tidak banyak tidak seperti saat musim panen dimana pohon alpukat berbuah lebat.

Agus menambahkan, karena saat ini alpukat jarang ditemui di pasaran, banyak bandar yang sengaja turun ke petani dan berani membeli alpukat meski masih ada di pohon belum dipanen. Hal ini dilakukan para bandar agar saat panen nanti, alpukat tidak dijual kepada orang lain. (Awis)***

Potensi Alam Kurang Terurus Asgar Jaya Dukung Pemekaran Garut Selatan

Written By Garut Express on Sunday, September 1, 2013 | 11:58 PM

KOTA, (GE).-
Paguyuban Asli Garut (Asgar) Jaya mendukung proses pemekaran Garut Selatan menjadi daerah otonomi baru (DOB). Ketua Asgar Jaya, Imam Hermanto mengatakan, dukungan ini didasarkan atas keinginan, agar Garut Selatan dapat sejajar dengan sejumlah daerah lain dalam hal kesejahteraan masyarakatnya.
           
“Garut, khususnya Garut Selatan, memiliki segudang potensi kekayaan alam. Namun pada kenyataannya, kesejahteraan masyarakat Garut Selatan masih dibelakang daerah lain yang potensi alamnya sedikit tetapi lebih maju,” kata Imam di sela-sela acara Halal Bihalal Asgar Jaya, Minggu, (1/9).
           
Warga Garut di perantauan, kata Imam, selalu memantau perkembangan terbaru mengenai pembentukan DOB Garut Selatan. Di wilayah Jabotabek, sebut dia, jumlah warga Garut telah terdata lebih dari 200 ribu jiwa.
           
“Garut harus berkembang dengan segala potensi yang dimilikinya. Kami mendukung proses pemekaran. Daripada gede tapi teu kaurus, mendingan leutik tapi mahi,” ujarnya.
           
Sebelumnya, sejumlah kalangan di Kabupaten Garut menginginkan agar pemekaran Garut dipercepat. Pemekaran wilayah ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
              
Pembentukan DOB Kabupaten Garut Selatan telah tercantum dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Nomor 165/Kep.288-Otdaksm/2011 Tentang Persetujuan Pembentukan Calon Kabupaten Garut Selatan dan Keputusan Bupati Garut Nomor 135/Kep.325-Bappeda/2009 Tentang Persetujuan Daerah Otonomi Baru Kabupaten Garut Selatan.
           
DOB Kabupaten Garut Selatan terdiri atas 16 kecamatan dengan 141 desa, di antaranya Kecamatan Banjarwangi, Bungbulang, Caringin, Cibalong, Cihurip, Cikajang, Cikelet, Cisewu, Cisompet, Mekarmukti, Pameungpeuk, Pakenjeng, Pamulihan, Peundeuy, Singajaya, dan Talegong.

Sementara itu, Tokoh Muda PDIP, Irvan Barki Irawan, mengatakan potensi ekonomi Kabupaten Garut sangat luar biasa. Selain potensi alamnya yang masih banyak belum tergali, potensi sumber daya manusianya pun cukup mumpuni. Oleh sebab itu, Kabupaten Garut, diyakininya akan bisa bersaing dengan kabupaten atau kota maju beberapa tahun kedepan.

"Kita lihat saja, di Sukaregang ada kerajinan kulit, home produksi dodol Garut dan masih banyak lagi potensi Kabupaten Garut lainnya yang belum tersentuh untuk terus dikembangkan," katanya.

Oleh sebab itu, kata Irvan, dibutuhkan pemimpin yang tahu betul akan potensi Kabupaten Garut secara sempurna. Sehingga bisa mengeluarkan kebijakan yang akan terus memajukan Garut. "Saya yakin dari 10 pasang calon pasti ada yang terbaik. Untuk itu, jangan sampai rakyat Garut salah memilih calon pemimpinnya," katanya.

Irvan berharap, siapa pun, Bupatinya yang terpilih nanti, bisa membangkitkan perekonomian warga Garut. Sehingga predikat sebagai daerah tertinggal bisa dilepaskan Kabupaten Garut. Namun tentunya, sehebat apa pun pemimpinnya, harus terus mendapatkan dukungan dari semua kalangan masyarakat. Jangan sampai, bupati terpilih nanti, kembali kandas di tengah jalan.(Farhan SN)***

Penjual Bendera Tahun Ini Lesu

Written By Garut Express on Monday, August 26, 2013 | 8:48 PM

KOTA, (GE).-
Para pedagang bendera musiman di beberapa wilayah kabupaten Garut, memilih tidak berjualan menjelang peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan RI tahun ini. Mereka melewatkan momen Agustusan tahun ini karena tidak mau merugi.

Satu-satunya penjual bendera di Kota Garut, Agus Suprianto (39), mengungkapkan omzet penjualan bendera tahun ini diprediksi mengalami penurunan tajam, pasalnya berdekatan dengan masa liburan Lebaran.

"Kita jualannya seminggu sebelum Lebaran, otomatis orang prioritas untuk belanja Lebaran. Padahal agustusannya seminggu setelahnya, mungkin tidak ada lagi waktu dan uang untuk persiapan agustusan," kata Agus ditemui di simpang empat Kejaksaan, beberapa hari yang lalu.

Akibat pesimis dengan keadaan, Agus yang telah menjadi pedagang bendera musiman selama 8 tahun ini hanya menghabiskan stok dagangan tahun lalu saja.

"Biasanya saya  keluar modal Rp 80 juta sampai Rp 100 jutaan untuk kulakan. Tapi tahun ini nggak berani, cuman ngabisin stok tahun kemarin. Saya jual juga dengan harga tahun kemarin," tandasnya.

Menurut Agus, yang juga koordinator PKL se-Jalan Cimanuk ini, banyak kawannya yang memilih tak berdagang karena khawatir menanggung kerugian besar.

"Sebagai gambaran, tahun kemarin tiga hari pertama saya sudah ngantongin uang Rp 500.000 sampai Rp 600.000. Sekarang, tiga hari jualan Rp 100.000 saja belum dapat. Makanya, di sini baru saya seorang yang jualan. Bahkan mungkin se-Garut baru saya," kata Agus.

Dari pantauan ‘GE’ menjelang hari H Peringtan HUT RI ke 68, penjual bendera di Garut memang tidak banyak. Selain di simpang empat Kejaksaan, tempat Agus berjualan. Satu penjual lagi terlihat di Jalan Otista. (Cep)***

Hj. Ami Pengusa Perempuan Tanggung Asli Garut

SEJAK usianya masih muda, Hj. Ami, dikenal sebagai seorang perempuan yang tak kenal lelah untuk berjuang. Saat itu, Ami, sudah mulai bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kota Bandung. Kerja keras seperti itu, ia lakoni guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya.

Setelah beranjak dewasa, Ami, menikah dengan pria idamannya Entang. Dari hasil pernikahannya, Ami dan Entang, dianugrahi tiga orang anak perempuan.

Saat itu, penghasilan Ami dan Entang, yang hanya menjadi buruh pabrik, tak cukup lagi untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Akhirnya Ami pun, mencoba mengubah haluan dengan berwiraswasta berjualan beras. Dengan modal yang sangat terbatas, usaha jualan berasnya pun tak menuai hasil maksimal.

Meski telah menuai kegagalan, usaha Ami untuk menjadi pengusaha tak berhenti sampai di situ saja. Terinspirasi oleh Bibinya yang menggeluti usaha pembuatan tas, Ami pun, memutuskan untuk mengikuti jejak Bibinya. Sejak Tahun 2000, sampai sekarang Ami, masih tetap menggeluti usahanya ini.

Bertempat di Desa Jangkurang, Kecamatan Leles, Ami, terus menjalankan roda usahanya dalam bidang memproduksi tas. Berbagai jenis tas diproduksi di tempat ini.

Dari hasil kerja kerasnya itu, Ami, mulai menuai hasil positif. Bahkan, kini ia telah memiliki karyawan sebanyak 70 orang. Bahkan tas buatannya pun, telah memiliki merek khusus yaitu "Dero". Nama merek tasnya tersebut, diambil dari inisial ketiga anaknya.

Kini Ami dan keluarganya bisa menikmati hasil dari kerja kerasnya merintis usaha pembuatan tas. Namun menurutnya, hasil yang tengah dinikmatinya kini, tak lepas dari jalan terjal yang ia lalui sebelumnya.

Meski usahanya telah menuai kemajuan, namun menurutnya ada salah satu permasalahan krusial untuk lebih memajukan usahanya itu. Ami menuturkan, permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk produksi tas saat ini sulit didapat. Hal tersebut terjadi, karena perajin tas di daerahnya itu sangat banyak. Jadi perajin tas menjadi rebutan pengusaha.

Mengenai bahan baku pembuatan tas, Ami, mengaku tak menemui kesulitan berarti. Pasalnya ia telah mendapat kepercayaan dari exson sebagai suplayer bahan baku tas yang beralamat di Pasirkoja Bandung. Sedangkan untuk pemasaran, Ami, sudah mempunyai langanan tetap yaitu di daerah Jatinegara, Tasik, Cirebon dan Garut.

Untuk memperluas pemasaran, saat ini, Ami, tengah menggenjot produksi tas. Tujuannya, produk tas tersebut, akan dipasarkan ke luar Pulau Jawa.(Dedy Hs)***

Yamaha Luncurkan Produk Baru Matik X Ride

KENDARAAN roda dua atau yang sering disebut motor, menjadi salah satu alternatif sarana transfortasi bagi warga. Selain harganya terjangkau dan irit bahan bakar motor pun menjadi sarana transfortasi yang simple dan mudah menempuh semua medan jalan.

Salah satu produk yang paling digemari warga Garut, adalah produk pabrikan motor Yamaha. Selain harganya kompetitif, produk Yamaha juga, memiliki kualitas andal dengan design menarik.

Sebagai salah satu dealer terbesar di Jawa Barat, PT. Jaya Mandiri Gema Sejati (JG Motor), terus membuat terobosan guna memasarkan berbagai produk sepeda motor pabrikan Yamaha. Beralamat di Jalan Oto Iskandardinata, nomor 6 Tarogong Kaler, JG Motor, memiliki visi untuk menjadi perusahaan terkemuka dalam jaringan retail otomotif.

Di temui diruang kerjanya, Branch Manager JG Motor, Jaya Sucipta, mengatakan untuk mencapai visi perusahaannya, kini JG Motor, tengah menjalankan misi emiliki jaringan retail yang kuat dan menguntungkan. Selain itu, menjaga kepercayaan pelanggannya.

Masih menurut Jaya, saat ini JG Motor, menargetkan penjualan sepeda motor sebanyak 250 unit tiap bulannya. demi tercapainya target tersebut, kini JG Motor telah membuka stan khusu yang berada di mol dan mengikuti berbagai macam even pameran.

Untuk memnuhi kepuasan konsumennya, kini Yamaha telah meluncurkan produk baru Yamaha Matik X Ride. Kwalitas sepeda motor metik X Ride ini, memiliki kemampuan mampu menembus jalan dataran tinggi dan pegunungan.

Produk ini, kata Jaya, dipastikan akan memetik hasil positif terutama di Garut yang nota bene daerah pegunungan. "X RIde ini sangat cocok menjadi sarana transfortasi bagi warga Garut. Pasalnya kondisi alam Garut yang terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan bisa ditaklukkan oleh sepeda motor metik X Ride," katanya, Kamis (22/8).

Selain memasarkan berbagai produk sepeda motor pabrikan Yamaha, JG Motor, juga menyediakan pelayanan spare part dan servis motor Yamaha. Untuk mengoptimalkan pelayanan, saat ini JG Motor, memiliki 30 orang karyawan yang telah disertifikasi oleh Yamaha.

Saat ini, JG Motor, tengah membuka kesempatan bagi warga yang berminat untuk menjadi staf marketing di daerah Garut. Bagi yang berminat, kata Jaya, agar datang langsung ke dealer JG Motor, Jalan Otto Iskandardinata, nomor 6 Kecamatan Tarogong Kaler. Atau bisa juga menghubungi telpon refresentatif JG Motor (0262) 2248525. (Dedi HS)***

Durian Lampung Diminati Warga Garut

TARKID, (GE).-
Buah yang berduri dan berbau menyengat ini, memang banyak diminati masyarakat, karena rasanya yang manis, dan juga harganya terjangkau. Hal tersebut menjadi peluang bisnis untuk sebagian orang, bahkan rela memesan durian hingga ke luar provinsi yaitu Lampung, untuk memenuhi permintaan yang makin meningkat.

Seperti Jumat (23/8), segerombolan ibu-ibu berkerumun memilih durian di Jalan Cimanuk, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul. Itu semua membuat pedagang kewalahan karena banyaknya warga Garut yang membeli durian.

Diakui pedagang durian, Aay (25), dirinya mengaku permintaan masyarakat Garut terhadap durian memang cukup tinggi. Oleh karena itu ia memesan durian hingga ke Lampung.

"Karena permintaan durian cukup tinggi, apalagi durian lokal jarang, akhitnya saya memesan ke pengepul di Lampung yang sudah menjadi langganan. Kualitas durian lampung juga cukup aik dibanding durian lokal, oleh karena itu durian Lampung sangat diminati Warga Garut. Harga Duarian juga cukup terjangkau, berkisar dari 20 rb, sampai 50 rb per butirnya," kata Aay.

Hal senada juga disampaikan salah seorang pengirim durian, Ridwan (30), yang berdomisili di Palembang, dirinya mengaku sudah tiga tahun setiap musim durian, ia diminta pedagang Garut untuk mengirim durian. "di Lampung sendiri hanya musim durian di satu tempat yaitu di Kota Agung Lampung Selatan. Tetapi kualitas durian dibanding tahun-tahun sebelumnya tahun ini lebih baik, baik ukuranya, maupun rasanya," ungkap Ridwan.

Masih menurut Ridwan, dirinya dipesan oleh pedagang Garut lewat telepon selurer, dan ia pun langsung mengirim ke Garut dengan menempuh perjalanan selama 24 jam. Ia membawa durian sebanyak 1000 butir. Ia juga mengaku kemungkinan ia hanya bisa mengirim barang satu kali, karena durianya hanya sedikit.

Seorang pembeli, Lia (23), mengaku dirinya suka durian, karena rasanya yang manis, juga baunya yang khas. "Setiap musim durian ia selalu memebeli durian, baik untuk dimakan sendiri, maupun untuk dimakan bersama keluarga dirumah. Saya paling suka durian Lampung, karena rasanya yang lebih manis, juga isinya lebih tebal," Ujarnya sambil terus mencicipi durian yang dikupas oleh pedagang.(Awis)***

Harga Emas Meroket Warga Garut Serentak Menjual Emas

KOTA, (GE).-
Nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah, hingga menyentuh Rp 11 ribu per $ 1, membuat harga emas terus merangkak naik. Kondisi tersebut, dimanfaatkan oleh sejumlah warga yang berinvestasi emas untuk menjualnya. Tak heran, jika hampir semua toko emas, tingkat transaksi belinya mengalami peningkatan.

Salah seorang pedagang emas di Garut Plaza, Bambang (34), mengatakan dalam beberapa hari terahkir terjadi kenaikan harga yang signifikan. Dia menjelaskan, harga emas 24 karat saat ini mencapai  Rp 480 ribu per gram. Padahal sebelumnya, harganya Rp 450 ribu per gram.

Menurutnya, bersamaan dengan momen setelah lebaran, banyak masyarakat yang menjual dari pada membeli emas. “Beberapa hari menjelang lebaran, pembelinya banyak dan harganya stabil. Tetapi setelah lebaran usai, dalam beberapa hari terakhir harganya terus naik, dari Rp 5000 hingga Rp 10.000 per hari,” jelasnya, Kamis (22/8).

Menurut dia,  para pedagang mulai merasakan lesunya penjualan setelah harga emas naik bersamaan setelah lebaran usai. Meski naik turunnya harga biasa terjadi, namun kenaikan harga yang tajam berpengaruh pada penghasilan para pedagang emas. Menurutnya, dalam kondisi  harga emas naik, banyak dimanfaatkan masyarakat yang mempunyai perhiasan untuk menjual.

“Perbedaan harga yang relatif tinggi, membuat masyarakat bisa mendapatkan keuntungan meski ada selisih penjualan sebesar Rp 10.000,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam beberapa hari terakhir omzet penjualan mengalami penurunan. Dia berharap kenaikan harga emas saat ini tidak berlangsung lama. “Penjualan emas sudah mulai menurun setelah lebaran, dari masyarakat yang datang ke toko emas, setengahnya lebih menjual emas,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pembeli, Rina Karlina (32), mengaku menjual emasnya untuk kebutuhan keluarganya. selain itu, kata Rina, tingginya harga emas saat ini, dimanfaatkannya untuk menjual perhiasan yang ia miliki.

"Menurut saya, saat ini momen paling tepat untuk menjual emas. Pasalnya, saat ini harganya sedang tinggi,' kata Rina.

Masih menurut Rina, dirinya akan membeli lagi emas jika harganya sudah stabil. Namun meski begitu, kata Rina, ia tak menjual semua perhiasan emasnya. Hanya sebatas pemenuhan kebutuhan tambahan keluarga saja.

Namun pada prinsifnya, kata Rina, dirinya berharap harga emas kembali stabil. Hal tersebut dibutuhkan agar ekonomi kembali normal.

Selain mahalnya harga emas, saat ini juga harga kebutuhan pokok masih cenderung mahal. Seperti harga daging sapi, saat ini harganya sudah mencapai Rp 106 ribu per kilo gramnya. Bahkan untuk harga cabe rawit kini harganya tembus kisaran Rp 50 ribu. (Farhan SN)***

Brigjen (Purn) H. Saepul Anwar, SE Peringati HUT Kemerdekaan RI di Atas Rakit

Written By Garut Express on Tuesday, August 20, 2013 | 12:36 AM




PAGI itu, puluhan siswa-siwi berseragam putih dengan langkah tegap mulai berbaris di atas rakit yang ada di Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi. Dipimpin oleh Brigjen (Purn) H. Saepul Anwar, SE, penyelenggaraan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di atas rakit ini berlangsung hidmat.

Pelaksanaan pengibaran bendera merah putih di atas rakit ini, membuat sejumlah warga yang ada di Kampung Kiaralawang, Desa Sukamukti, Kecamatan Banyurresmi, turut menyaksikan jalannya upacara. Pelaksanaan upacara kemerdekaan HUT Kemerdekaan RI ke 68 ini, diikuti juga oleh para siswa dan siswi SMP dan SMK Karya Muda.

Ketu panitia pengibaran bendera merah putih di atas rakit itu, Roni Nurjaman, S. Pd. I, yang merupakan calon anggota legislatif dari Partai Gerinda ini, mengatakan kegiatan ini sengaja digagas untuk agar upacara peringatan tak monoton dilakukan di lapangan. Selain itu, kegiatan yang digagasnya mudah-mudahan dapat merubah paradigma masyarakat terhadap kelestarian Situ Bagendit.

"Dengan kegiatan seperti ini, mudah-mudahan masyarakat setepat sadar dan tergugah untuk terus melestarikan Situ Bagendit. Selain itu, aset Situ Bagendit, akan lebih bermanfaat jika dikelola oleh sumber daya manusia yang mumpuni," kata Caleg Dapil 5 ini.

Sementara itu, Brigjen (Purn) H. Saepul Anwar, SE, menyampaikan amanatnya hari kemerdekaan harus senantiasa dikenang sebagai bentuk penghargaan bagi para pahlawan. Oleh karena itu, sebagai warga yang baik perlu terus memupupuk rasa dan nilai-nilai nasionalisme dalam setiap jiwa warga Indonesia. Selain itu, Saepul Anwar, mengatakan nasionalisme terhadap tanah air akan memberikan kenyamanan dalam hidup bernegara.

Jendral pun berpesan, kepada masyarakat yang tinggal di pinggir Situ Bagendit agar bisa merawan dan melestarikan keasrian situ kebanggaan warga Garut itu. Pasalnya, kata Jendral, itu Bagendit, merupakan aset berharga bagi Garut untuk terus dikembangkan.

"Masyarakat pinggir Situ Bagendit memiliki rakit yang digunakan sebagai budaya alat transportasi, juga sebagai sarana mencari nafkah. Maka, perlu adanya pelestarian dan pemberdayaan yang serius," ungkap Jendral, Sabtu (17/8).

Saat ini, kata Jendral, kondisi Situ Bagendit sangat memprihatinkan. Kedalaman airnya semakin dangkal dan banyak tumbuh gulma air yang mengurangi nilai-nilai artistik Wisata Situ Bagendit.

Hal tersebut, ujar Jendral, harus dicarikan solusinya agar Situ Bagendit bisa terselamatkan. Meskipun, pengelolaan tempat wisata ini dipegang oleh Provinsi namun Garut memiliki tanggung jawab yang sama sebagai Pemerintah Daerah. (Ilham Amir)***

ILHAM AMIR/GE
1. Roni Nurjaman, S.PdI, selaku Komando upcara di atas Rakit Situ Bagendit, Sabtu (17/8).*
2. Brigjen (Purn) H. Saepul Anwar, SE, saat menjadi pembina upacara pengibaran bendera merah putih di atas rakit, Situ Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, Sabtu (17/8).*
3. PENGIBARAN bendera merah putih oleh siswa siswi SMP dan SMA Karya Muda, Sabtu (17/8).*
4. SUASANA hening dan hidmat selimuti penyelenggaraan pengibaran bendera upacara di atas rakit di Situ Bagendit.*

Diskusi Penggerak Posyandu Bersama dr Helmi

PARA penggerak Kader Posyandu yang dimotori oleh dr. Asep Ichsan mengundang dr. Helmi Budiman selaku Cawabup Garut untuk menghadiri acara diskusi kesehatan bersama para penggerak kader posyandu di Kecamatan Banyuresmi, Sabtu (3/8).
Sebagaimana diketahui, dr. Helmi adalah Ketua Fraksi DPRD Kab. Garut Komisi D yang antara lain membidangi kesehatan. Dokter jebolan Unpad tersebut memiliki pengalaman dan kapabilitas di bidang kesehatan dan sosial. Selain memiliki salah satu klinik kesehatan di Samarang, ia juga salah satu pemerhati kesehatan di Garut yang cukup peduli dan antusias dalam menangani berbagai permasalahan berkaitan dengan kesehatan.
Dalam diskusi yang langsung dimoderatori oleh dr. Asep Icshan, dr. Helmi memaparkan berbagai hal mengenai kesehatan dan kaitannya dengan sejumlah problematika pelayanan kesehatan yang ada di Garut. "Minimnya kualitas sekaligus kuantitas kesehatan di sejumlah rumah sakit di Garut, seharusnya menjadi perhatian dan prioritas utama pemeritah daerah," ungkapnya.
dr. Helmi mencontohkan kondisi RSU dr. Slamet Garut. Menurutnya, kebutuhan kamar rawat inap adalah 2.500 kamar, yang tersedia saat ini hanya sekitar 500-an. Hal ini sangat menghawatirkan bagi kalangan tidak mampu apabila memerlukan kamar rawat inap. Selain masalah biaya juga keterbasanan kamar yang tersedia tentunya sudah dihuni oleh kalangan yang mampu.
Pada kesempatan tersebut, dr. Helmi memaparkan hasil riset dan survei tingkat pelayanan kesehatan di seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat. Kabupaten Garut menempati posisi kedua dari bawah. "ini sungguh sangat memprihatinkan," cetusnya.
Lebih lanjut dr. Helmi menekankan kepada para kader Posyandu untuk selalu berkomitmen untuk mendukung dan meneruskan program-program yang dicanangkan Gubernur, Ahmad Heryawan. "Gubernur sangat perhatian terhadap masalah kesehatan terutama pelayanan melalui posyandu. Lihatlah geliat Posyandu diberbagai daerah!" ungkapnya.
dr. Helmi juga sangat mengapresiasi program Gubernur itu dan mengharapkan program tersebut menjadi program yang sukses, bermanfaat, dan mensejahterakan rakyat Jawa Barat khususnya. Begitupula harapan yang disampaikan para kader Posyandu agar program ini menjadi perhatian khusus dari pemerintah daerah. (Ahmad Sadli)***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Garut Express - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger