Latest Post

Showing posts with label Panglejar. Show all posts
Showing posts with label Panglejar. Show all posts

Garut 2 Abad

Written By Garut Express on Wednesday, February 20, 2013 | 7:17 PM




Garut Dua Abad

Babad-babad telah menyimpan sejarah

Tentang sejuta kisah dan segala keluh kesah

Dulu tanah ini teramat indah dan gemah ripah

Dihiasi puja puji para penyaksi  yang selalu bercerita tak pernah lelah

 Kini dalam hitungan angka yang teramat tua

Semua kehebatan, keindahan dan kemasyhuran hanya tinggal cerita

Berganti  dengan keluh kesah yang  menyesakan dada

Tetapi, kita pantang untuk diam dan meratapi semua yang ada

Saatnya bangkit!

Berkaca dari kehebatan masa silam untuk  kemajuan masa depan

Mewujudkan mimpi yang tertunda dengan penuh harapan

Menuju Garut Yang Tata Tengtrem Kerta Raharja

Sabda Alam Lumat FD Rancabango 3-0

Written By Garut Express on Monday, February 11, 2013 | 8:55 PM


Sebanyak 16 Klub Bola Voli Meriahkan Turnamen se-Kab. Garut
Sabda Alam Lumat FD Rancabango 3-0

TARKA, (GE).- Klub bola voli Sabda Alam berhasil membuktikan keperkasaannya dengan melumat FD Rancabango dengan skor 3-0 (25-20, 25-22, 25-23), pada partai pembuka Kejuaraan Bola Voli Antarklub se-Kabupaten Garut, di Lapangan Bola Voli Nagrog, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Sabtu (10/1).
Sementara di partai kedua, IPTN juga berhasil menaklukan lawannya, AJEN dengan skor yang sama, 3-0 (25-18, 25-21, 25-20). Kejuaraan dibuka langsung Kepala Bidang Keolahragaan Disorda Provinsi Jawa Barat Drs. Kamarul Bahri, M.Pd.
Kejuaraan yang memerebutkan Piala Gubernur ini dikuti sebanyak 16 klub se-Kabupaten Garut. Kejuaraan akan berlangsung selama 8 hingga tanggal 17 Februari mendatang. Setiap hari akan dilaksanakan 2 kali pertandingan. Kejuaraan menerapkan sistim gugur tunggal. Setiap klub dibolehkan membawa pemain dari luar Garut sebanyak 5 orang. Walau dikenakan karcis, penonton tetap membludak menyaksikan laga pembuka itu.
Ketua Panitia, Heri Rhomdon, di sela-sela kesibukannya, berharap, kejuaraan semacam ini bisa menjadi agenda tahunan. Untuk kejuaraan kali ini, panitia membatasi jumlah peserta hanya 16 klub.
"Peserta yang berniat mengikuti turnamen ini sebenarnya cukup banyak. Namun, mengingat waku penyelenggaraannya mepet, terpaksa kami membatasi jumlah peserta. Kami mengenakan tiket masuk sebesar Rp 3.000. Hasilnya digunakan untuk memperbaiki lapang dan kas kegiatan masyarakat sekitar,” katanya.
Panitia menyediakan hadiah untuk para pemenang berupa uang tunai dan trophi. Untuk juara pertama akan mendapatkan uang pembinaan senilai Rp 5 juta, juara ke-2 (Rp 3 juta), juara ke-3 (Rp 1,5 Juta),  dan juara ke-4 senilai Rp 500 ribu.
Ditambahkan Penanggung Jawab Turnamen, Ridwan Riswanda, PBVSI hanya menjadi pembina dan yang menyelenggarakannya adalah Disorda Provinsi Jawa Barat. "Semoga kejuaraan bola voli ini bisa menumbuhkan bibit atlet baru dan masyarakat sekitar bisa lebih menyukai olahraga bola voli," katanya. (Awis)***

AWIS/GE
PERTANDINGAN pembuka antara Sabda Alam vs FD Rancabango berhasil dimenangi Sabda Alam, 3-0.

Pemain Lolos Seleksi Digenjot Latihan

Written By Garut Express on Sunday, February 3, 2013 | 10:07 PM


Pemain Lolos Seleksi Digenjot Latihan

TARKID,(GE).- Sejak berkumpul Jumat (25/1) pagi di SOR Merdeka, sebanyak 32 pemain yang lolos seleksi awal Tim Persigar untuk Divisi Dua PSSI menjalani serangkaian latihan. Latihan fisik dan teknik dilakukan secara bergantian di SOR Merdeka dan Lapang Jayaraga. Berada di bawah pengawasan intensif tim pelatih yang dikepalai Agus Kurnia.
Tim pelatih sepertinya tidak mau menunda waktu dalam mempersiapkan armadanya. Waktu tersisa sekitar dua bulan sebelum kick off kompetisi harus dioptimalkan. Memberikan kesempatan kepada semua pemain meningkatkan kemampuan terbaiknya. Sehingga pemain yang bertahan hingga pembentukan tim utuh nanti betul-betul yang terbaik.
Pelatih Kepala Pesrigar, Agus Kurnia, Rabu (30/1), mengatakan, pihaknya tidak terburu-buru dalam melakukan eleminasi terhadap pemain yang masih di bawah standar. Waktu seminggu dirasa belum cukup untuk melihat secara tepat kualitas pemain. Oleh karena itu, para pemain masih dipertahankan untuk menjalani jadwal latihan.
“Sebagian dari pemain, masih terlihat menyesuaikan dengan materi dan bobot latihan yang kami terapkan. Kami harus memikirkan secara matang dan cermat dalam menilai kemampuan pemain. Kami yakin semakin lama para pemain semakin berusaha meningkatkan kerja kerasnya dalam berlatih,” katanya.
Ditambahkan Agus, pemain yang lolos seleksi sekarang ini jumlahnya setara dengan 3 tim. Keseimbangan komposisi juga diperhatikan antara penjaga gawang, pemain belakang, tengah, dan depan. Dengan pola seperti ini, akan banyak memiliki alternatif untuk memilih pemain yang paling siap dan bagus di setiap lini.
Agus merencanakan para pemainnya akan bertanding dengan para mantan pemain Persigar, Sabtu depan. Diharapkan para pemain dapat menimba pengalaman dari para pemain senior itu. Tidak hanya di dalam lapangan, namun juga saat di luar lapangan.
“Bagaimanapun yunior perlu belajar kepada seniornya. Memperoleh gambaran seperti apa nanti saat menjalani kompetisi yang sesungguhnya. Dengan begini, dapat menumbuhkan semangat berlatih dalam diri yunior,” tuturnya.
Faktor mental memang perlu ditanamkan sejak dini kepada para pemain. Dengan kondisi Lapang Jayaraga seperti sekarang ini, Persigar nampaknya akan selalu bertanding di luar daerah. Bertanding di kandang lawan akan menghadapi banyak tekanan. Satu diantaranya dapat dipastikan dari pendukung tim tuan rumah.
Mental juga diperlukan saat menghadapi pertandingan yang adakalanya berlangsung panas. Sebuah situasi yang tidak mudah dijalani. Pemain jangan sampai lepas kontrol karena bisa merugikan tim sendiri. Sejak sekarang, berlatih mengontrol emosi sehingga dapat fokus kepada pertandingan. Berpikir ke depan dalam menjaga peluang Persigar tetap melaju hingga finish dari Divisi Dua. (Firman)***

Jelang Divisi Dua Liga Indonesia 2013/2014Persigar Seleksi Pemain Terbaik Porkab

Written By Garut Express on Thursday, January 31, 2013 | 8:27 PM


Jelang Divisi Dua Liga Indonesia 2013/2014Persigar Seleksi Pemain Terbaik Porkab

TARKID,(GE).- Persigar akan kembali menjalani perjuangannya di Kompetisi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Divisi Dua Liga Indonesia. Pada musim kompetisi 2011/2012 lalu, langkah Persigar terhenti di babak dua. Faktor non-teknis diyakini penyebab kegagalan Persigar menuntaskan ambisi lolos ke Divisi Satu waktu itu. Tiada lain faktor tuan rumah yang pada babak dua menjadi milik Persekabpur Purworejo (putaran I) dan Serang Jaya (putaran DUA). Hanya Persigar yang mampu menuntaskan seluruh pertandingan, di luar kedua tim tuan rumah itu. Sedangkan Persibri Batang Hari dan PSISa Salatiga mengundurkan diri di tengah jalan.

Musim kompetisi 2013/2014 sudah di depan mata. Kompetisi akan dimulai sekitar akhir Bulan Maret mendatang. Perlombaan cabor sepak bola pada Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) akhir November 2012 lalu mendatangkan keuntungan tersendiri dalam menyiapkan tim. Tim Pelatih yang dikepalai Agus Kurnia sudah mengantongi nama-nama pemain terbaik yang berlaga di Porkab. Para pemain pun dipanggil untuk mengikuti seleksi.

Lebih dari seratus pemain mengikuti seleksi yang digelar Rabu (16/1) dan Senin (21/1) di Lapang Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul. Antusiasme ditunjukkan para pemain. Mereka menampilkan kemampuan terbaiknya agar masuk daftar pemain yang dipilih pelatih. Terlihat pada sesi game yang membagi pemain dalam dua tim yang saling berhadapan.
Sementara itu, di pinggir lapangan, Tim Pelatih yang terdiri dari Agus Kurnia, Oded Sutarna, Adnan Mahing, Wardi, dan Gungun Hidayat nampak serius mengamati para pemain. Mereka berdiskusi dan menandai nama pemain yang dinilai berpotensi. Tidak ketinggalan juga pengurus Persigar, Bah Oyon, yang memastikan kelancaran proses seleksi.

Setelah melalui tahapan rapat evaluasi tim pelatih, akhirnya ditetapkan 32 pemain yang lolos seleksi tahap awal. Ke-32 pemain ini menjalani latihan lanjutan di SOR Merdeka Kerkhof, Jumat (25/1). Menu latihan diarahkan kepada menguji kapasitas volume oksigen (Vo2 max) pemain.
Sebelum latihan, Agus Kurnia, mengatakan, penjaringan pemain Porkab ini untuk mengoptimalkan putra daerah dalam tim Persigar. Potensi awal pemain di masing-masing posisi bermain sudah terlihat saat Porkab. 

Dikatakan Agus, selama sebulan mereka akan dipadukan sebagai satu tim. Selama prosesnya, akan dilakukan eleminasi terhadap pemain yang tidak menunjukkan kemajuan. Dilihat dari berbagai aspek seperti kemampuan teknik, fisik, mental, dan kepribadian.

“Nanti juga akan dilakukan uji tanding dengan klub yang setingkat (kualitasnya). Apakah sudah standar untuk bertanding di Divisi Dua atau belum,” katanya.
Porkab telah memunculkan bibit-bibit pemain potensial. Semakin menegaskan jika Kabupaten Garut memang gudangnya pemain sepak bola yang handal. Bukan saja dari Kecamatan Cikajang, tetapi dari kecamatan-kecamatan lainnya. Prestasi Tim Kecamatan Bungbulang dan Singajaya masuk 4 besar sepak bola Porkab menjadi buktinya. (Firman)***

FIRMAN/GE
PEMAIN sedang menjalani seleksi melalui sesi pertandingan di Lapang Jayaraga, Senin (21/1).

TIM Pelatih (dari kiri) : Agus Kurnia, Gungun Hidayat, Oded Sutarna, Adnan Mahing, dan Wardi saat memantau para pemain peserta seleksi.


DAFTAR 32 PEMAIN LOLOS SELEKSI

Doni Ramdani (Cikajang)
Dani Sawaludin (Cikajang)
Febri Yandi (Cikajang)
Anggi M. Irsan (Cikajang)
Yusuf K (Cikajang)
Ujang Saepul (Cikajang)
Deny Apandi (Cikajang)
Toni Setiawan (Cikajang)
Yogi Nugraha (Cikajang)
Rudi Khoirudin (Cikajang)
Desta (Cikajang)
Tatang (Cikajang)
Debbi Maulana (Samarang)
Syehabudin Ahmad (Samarang)
Sandi Subagja (Bayongbong)
Fassa Nugraha (Bayongbong)
Solihin (Bayongbong)
Ari (Bayongbong)
Ishak (Bayongbong)
Teguh (Pamulihan)
M. Faz Ardiana
Ihsan Jamah sari (Sucinaraja)
Budiman (Cisurupan)
Asep (Cisurupan)
Chaerul Fariz A. (Kadungora)
Agung (Limbangan)
Kukuh (Limbangan)
M. Irfan (Malangbong)
Zakaria (Malangbong)
Dika (Bungbulang)
Fitrul (Bungbulang)
Dindin (Pangatikan)





Bank OCBC NISP Peduli Thalassaemia


Bank OCBC NISP Peduli Thalassaemia

BAYANGKAN sejenak jika kita setiap minggu atau bulan harus transfusi darah. Proses ini harus dijalani seumur hidup! Rasanya, sebulan saja kita tidak akan sanggup menjalaninya.

Namun, sebagian diantara kita harus menjalani hal di atas seumur hidupnya. Mereka tiada lain para penderita thalassaemia. Sebuah kelainan sel darah merah bawaan (turunan/genetik). Akibat kelainan darah tersebut, tubuh penderita tidak dapat membentuk sel darah merah (haemoglobin) yang cukup dalam darah mereka. Sehingga memerlukan transfusi darah seumur hidupnya.

Penderita penyakit bawaan yang tidak pandang status sosial ini harus dihadapkan kepada situasi dilematis. Bukan hanya biaya perawatannya yang besar, namun juga implikasi dari transfusi darah. Karena terlalu sering transfusi darah bisa “menyerang” organ tubuh lain.
Hal ini disebabkan karena para penderita thalassaemia juga mempunyai kendala fungsi limpa yang tidak optimal. Akibatnya kandungan logam yang masuk ke dalam tubuh baik melalui makanan maupun lewat transfusi darah akan menumpuk di organ-organ tertentu, sehingga untuk mengurainya mereka harus diberikan obat kelasi besi dengan cara di suntikan selama 5-7 jam setiap malam setiap hari atau memakan obat oral.

Dari tahun ke tahun, penderita thalassaemia semakin meningkat. Situasi ini tentu tidak bisa dihadapi dengan tinggal diam. Diperlukan langkah bersama semua pihak. Apalagi, di tengah belum memasyarakatnya informasi utuh mengenai thalassaemia. Kebijakan pemerintah pun baru pada tahap merawat penderita yang sudah lahir belum ke tahap pencegahan. Mendengar nama thalassaemia kedengarannya cantik, Padahal menyimpan setumpuk kepiluan bagi penderitanya.
Adalah Bank OCBC NISP yang sejak tahun 2011 memberikan perhatian khusus terhadap thalassaemia. Bukan saja membantu para penderitanya, tetapi juga mengajak semua pihak untuk turun tangan menghadapinya.

Bertempat di Gedung STIKES Garut, Rabu (23/1), manajemen OCBC NISP, diwakili Business Coordinator Kantor Tasikmalaya Bank OCBC NISP, Stefi Sujaya, menyerahkan bantuan berupa biaya pendidikan selama satu tahun kepada 13 anak penderita thalassaemia di Garut. Acara ini dihadiri Pembantu Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKES, Ir. Yani Yuliani, Dinas Kesehatan Garut, Kepolisian Resor Garut, Korem 062/Tarumanagara, anggota DPRD Garut, pengurus Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI), Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Garut, serta para tamu undangan dari civitas akademika Uniga, AMIK, STKIP dan beberapa perwakilan sekolah menengah atas.

Kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “My Dreams Come True” ini merupakan insiatif dari seluruh karyawan Bank OCBC NISP untuk dapat berbagi dan peduli kepada anak-anak penderita thalassaemia. Fokus bantuan pada tahun 2013 ini yaitu untuk mewujudkan mimpi anak-anak thalassaemia untuk dapat melanjutkan pendidikan.
Para karyawan OCBC NISP berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 250.000.000 yang digunakan untuk bantuan biaya pendidikan bagi 101 anak penderita thalassaemia di 9 kota.
Meliputi Jakarta, Tangerang, Bandung, Tasikmalaya, Garut, Medan, Palembang, Semarang, dan Yogyakarta. Tidak hanya berbentuk uang, tetapi juga perlengkapan sekolah, buku bacaan anak-anak, vitamin, serta alat kesehatan lainnya.

Direktur Bank OCBC NISP, Rama P. Kusumaputra, menyatakan, bangga terhadap para orang tua yang senantiasa menemani anak-anak mereka menjalani perawatan setiap harinya. Serta salut kepada anak-anak yang memiliki semangat untuk tetap melanjutkan pendidikan dengan kondisi kesehatan mereka saat ini.
“Khusus untuk para karyawan Bank OCBC NISP, saya juga menyampaikan apresiasi atas kepeduliannya yang tinggi untuk berbagi dengan anak-anaka penderita thalassaemia ini. diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan dapat lebih baik lagi di masa yang akan datang,” katanya. (Firman)***

Memutus Mata Rantai Thalassaemia

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, peningkatan penderita thalassaemia di Garut cukup merisaukan. Jika pada tahun 2008 hanya tercatat 85 penderita. Sekarang jumlahnya mencapai 241 penderita. Padahal, untuk perawatan setiap penderita memerlukan dana sekira 12 juta rupiah, sehingga dalam sebulan sekitar Rp 3,5 milyar.
Dengan angka yang fantastis itu, upaya pencegahan merupakan hal yang tepat. Menekan angka kelahiran anak penderita thalassaemia. Sama artinya dengan mengindarkan pengeluaran biaya sangat tinggi tadi.

Division Head Corporate Communication OCBC NISP, Tina Tjintawati, usai acara penyerahan bantuan, Rabu (23/1), mengatakan, pihaknya tidak ingin hanya memberikan sumbangan berupa uang. Hanya sesuatu pemberian filantropi dan selesai. Tetapi ingin berkelanjutan. Fokus ke dapan yaitu memutus mata rantai thalassaemia.
“Kami tahu bahwa penyakit ini merupakan penyakit langka. Sehingga belum memasyarakat. Tidak ada obatnya. Bagaimana pencegahannya? Salah satunya melalui screening darah. Karena thalassaemia penyakit genetik (keturunan),” katanya.

Ditambahkan Tina, pihaknya bekerjasama dengan YTI dan POPTI Kabupaten Garut untuk screening (pemeriksaan) darah awal. Seperti ke SMA dan perguruan tinggi karena merupakan kelompok yang paling mungkin segera menikah.
“Jika mereka keduanya merupakan pembawa sifat (thalassaemia) maka kemungkinan setiap angka kehamilan akan mempunyai 25% kelahiran Thalassemia mayor yang harus di tranfusi sebulan sekali atau bahkan 2 minggu sekali tergantung kondisinya seumur hidup. Kita tidak ingin thalassaemia ini bertambah,” katanya.

Dalam kesempatan terpisah, Pengurus Harian Yayasan  Thalassemia Indonesia Cab. Garut (YTI Garut) yang diwakili Ibu Hj. Lilis Rostina, Ibu Hj. Diana Ratna Inten, SH, Pipin Ramdani dan Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Kabupaten Garut, Ended Sobandi, menjelaskan, pihaknya pertama kali bekerjasama dengan Bank OCBC NISP pada tahun 2008. Pihak bank datang ke Garut melihat kondisi penderita thalassaemia.

“Sampai Bank OCBC NISP menyumbang 5 buah tempat tidur. Karena waktu itu, Rumah Sakit dr Slamet Garut cuma menyediakan tempat (ruangan), tetapi tidak menyediakan fasilitas lainnya,” katanya.

Dilanjutkan Pipin, YTI dan POPTI Garut diminta Bank OCBC NISP menggali informasi seputar keinginan anak-anak penderita thalassaemia. Kalau daerah lain umumnya ada yang mengajukan berupa barang. Maka Garut pada saat itu mengusulkan bantuan pendidikan. Perkembangan selanjutnya, model bantuan seperti itu terbukti yang digunakan.
Mengenai upaya memutus mata rantai thalassaemia, Pipin, mengatakan, akan mengadakan screening thalassaemia awal dengan biaya yang jauh lebih murah dari biasanya. Hal itu dikarenakan YTI Garut mengajak seluruh potensi yang ada untuk sama-sama berperan serta dalam event ini. Diantaranya Lab. Diates, dokter ahli spesialis fatologi klinik, Dr. Yuli, dan para relawan analis.

“Tujuan kami, disamping memutus mata rantai. Juga ingin memberikan informasi yang riil dengan angka-angka yang jelas kepada Pemerintah Daerah Garut. Bahwa untuk acara seperti ini angkanya tidaklah terlalu besar. Tetapi akan bisa menghindari kemungkinan kebutuhan (biaya perawatan penderita thalassaemia) yang nantinya jauh lebih besar lagi,” katanya. (Firman)***


Kawasan Darajat Masih Jadi Primadona

Written By Garut Express on Saturday, January 5, 2013 | 6:41 PM


Kawasan Darajat Masih Jadi Primadona

Sejak dibuka untuk umum, kawasan wisata air panas Darajat sejatinya menjadi magnet baru bagi wisatawan yang datang ke Garut. Di musim liburan panjang akhir tahun sekarang ini, sejumlah pengelola wahana wisata kerap kewalahan melayani para pengunjung.

Usep Nurul Amin (31) warga Kecamatan Pasirwangi mengaku, sejak dibuka beberapa tahun lalu, wisata air panas Darajat seolah menjadi primadona di Kabupaten Garut. Sebab, setiap musim liburan, arus kendaraan yang masuk ke wilayah ini melonjak drastis.

Mulai dari wilayah Panunjuk, kendaraan pribadi dan kendaraan besar setiap harinya, memadati jalur tersebut. Tak ayal, kemacetan seringkali tak bisa dihindarkan lagi.

Seperti penuturan Winda (26), salah seorang pengelola wahana wisata alam Puncak Darajat. Diakuinya, pihak pengelola kerap kewalahan melayani para wisatawan yang datang pada musim akhir tahun ini. Membludaknya para pengunjung, sangat terasa mulai musim liburan sekolah. “Pengunjung yang datang musim liburan akhir tahun ini membludak,” ungkapnya seraya melayani para pengunjung yang datang, Minggu (30/12).

Winda menjelaskan, sejumlah cottege yang berada di kawasan air panas Darajat sudah habis dipesan sejak awal Desember lalu. Memang, diakuinya, suasana liburan akhir tahun kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski pihak pengelola menaikkan tarif hingga 25%, namun, diakui Winda, hal tersebut tidak mempengaruhi para pengunjung yang datang.

Liburan Akhir Tahun 2012 Garut Diserbu Wisatawan


Liburan Akhir Tahun 2012
Garut Diserbu Wisatawan

AWAL tahun 2013 tinggal menunggu hitungan jam. Namun, aktivitas masyarakat untuk merayakannya sudah terasa menggeliat jauh sebelum perayaan pergantian tahun dilakukan. Sudah menjadi kebiasaan, setiap pergantian tahun, menjadi momen yang tidak ingin dilewatkan oleh siapa pun.

Kota Garut yang terkenal dengan panorama alam dan objek wisata, menjadi tempat pilihan untuk berlibur dan merayakan pergantian tahun baru. Terlebih lagi, musim liburan sekarang terbilang komplit. Mulai dari liburan sekolah, liburan hari raya natal dan liburan akhir tahun.

Berdasarkan pantauan GE di lapangan, sejak minggu keempat tahun 2012, sejumlah obyek wisata di Garut sudah mulai dibanjiri pengunjung. Mereka datang tak hanya dari wilayah Bandung dan Jabotabek saja, wisatawan dari luar Jawa Barat pun sudah mulai terlihat di beberapa ruas jalan di Kabupaten Garut. Musim penghujan tak menyurutkan para wisatawan untuk menikmati keindahan alam dan wisata di daerah yang terkenal dengan dodolnya ini.

Setiap harinya, mobil dengan plat luar Garut, mengular di jalan-jalan protokol Kota Intan. Tentu saja, hal tersebut menjadi pemandangan unik. Akibatnya, kemacetan pun tak bisa terhindarkan. Mulai dari jalur Kadungora hingga wilayah Tarogong, setiap harinya terjadi kemacetan.

Melihat berjubelnya pengunjung yang datang, dipastikan jumlah wisatawan ke Garut naik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dari beberapa obyek wisata yang ada, diperoleh data, tiket yang terjual lebih dari 100 ribu tiket. Capaian tersebut, melebihi penjualan tiket pada musim liburan hari raya lebaran kemarin.
Melihat tingginya arus lalu lintas mulai dari daerah Kadungora, sudah bisa dipastikan, ada lonjakan jumlah wisatawan yang luar biasa yang datang ke Garut. Iksan Taufik (29), warga Kp. Pasir Salam Kec. Banyuresmi saat diminta tanggapanya, Minggu (30/12) menuturkan, musim liburan kali ini, objek wisata Situ Bagendit pun banyak dibanjiri pengunjung luar Kota Garut. Bus-bus luar kota, menurutnya, setiap harinya memadati objek yang belakangan ini mulai sepi pengunjung.

“Yang sering datang adalah pengunjung dari luar Kota Garut. Mungkin mereka penasaran dengan kebesaran nama Situ Bagendit,” ungkap Iksan yang biasa dipanggil Iik ini.

Selain itu, Kawasan Cipanas nampaknya masih memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang. Menurut pengurus PHRI Garut, Okupansi Hotel dan Penginapan di kawasan Cipanas musim liburan kali ini mencapai 90%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah menjelang detik-detik malam pergantian tahun.

Belum lagi kawasan Pantai Selatan Jawa khususnya pantai Santolo, Sayang Heulang dan pantai Rancabuaya, juga dipastikan mengalami lonjakan pengunjung.

Padatnya pengunjung ke pantai selatan jawa tersebut terlihat dari jumlah kendaraan yang melintasi jalan protokol Cisurupan-Pameungpeuk. Menurut catatan anggota Polsek Cisurupan, Sadin, lonjakan kendaraan yang melintasi jalur Cisurupan ke arah Pameungpeuk setiap harinya terus bertambah.

Menurutnya, peningkatan jumlah kendaraan akan terus berlangsung sampai awal tahun 2013. Diakuinya, kepadatan lalu lintas sudah mulai terjadi sejak awal liburan sekolah. “Sudah bisa dipastikan, menjelang pergantian tahun baru, jumlah kendaraan yang melintasi ke arah Pameungpeuk ini akan meningkat,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Dadang Rosadi, warga asal Kecamatan Cibalong. Dikatakan Dadang, setiap harinya, sejak musim liburan sekolah, kendaraan menuju objek wisata di pantai selatan terus berdatangan. Menurutnya, kebanyakan pengunjung yang datang, kebanyakan dari luar Kabupaten Garut. Meningkatnya jumlah kendaraan yang melintasi jalur ke Pameungpeuk tersebut, tak jarang warga yang sulit melakukan aktivitasnya sehari-hari.

“Apalagi kalau menjelang tahun baru. Sudah menjadi pemandangan rutin, seluruh pantai di wilayah selatan ini dipadati para pengunjung yang ingin merayakan pergantian tahun baru,” jelas Dadang.

Menangani Kespro tidak Bisa Ditunda Lagi

Written By Garut Express on Thursday, December 27, 2012 | 9:59 PM

KETUA PKBI Cabang Garut, Drs. H. Uus Kudus, M.Si, (kiri) saat membuka pelatihan jurnalistik kesehatan reproduksi (Kespro) dan Seksual Remaja bagi wartawan, di Hotel Augusta, Rabu - Jumat (19-21/12).

Menangani Kespro tidak Bisa Ditunda Lagi

KESEHATAN bukanlah segalanya. Namun tanpa kesehatan, segalanya tidak berarti. Demikian dikatakan Dr. Gunawan, pegiat Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Jawa Barat, saat menyampaikan materi dalam pelatihan jurnalistik kesehatan reproduksi (Kespro) dan Seksual Remaja bagi wartawan, di Hotel Augusta, Rabu (19/12).

Ungkapan itu, berlaku pula dalam Kespro dan Seksual di kalangan remaja. Data-data yang dikeluarkan lembaga dalam maupun luar negeri menggambarkan kondisi yang miris akan Kespro di tingkat remaja. Layanan kesehatan reproduksi remaja Mitra Citra Remaja PKBI Jawa Barat pada tahun 2011, mencatat sekitar 28% dari 285 remaja di Indonesia telah melakukan aktivitas seksual di luar nikah. Sebanyak 6% diantaranya, dikarenakan dipaksa oleh pasangannya. Sebelumnya pada tahun 2006, Annisa Foundation merilis data penelitian di salah satu kabupaten di Jawa Barat, bahwa 42,3% pelajar SMP dan SMA telah melakukan hubungan seks yang pertama saat duduk di bangku sekolah.

Data lainnnya yang dikeluarkan Directorate General CDC & EH, Ministry of Health, Republic of Indonesia, mengungkapkan bahwa per 31 Desember 2011 terdapat 28.757 kasus HIV/AIDS. Sebanyak 1.069 kasus terjadi pada remaja usia 15-19 tahun. Sedangkan pada remaja usia 20-29 tahun, sebanyak 13.053 kasus. Artinya, 1 dari 2 penderita HIV/AIDS adalah remaja berusia 15-29 tahun.

Gambaran singkat itu, cukup membuat kita harus memberikan perhatian yang serius terhadap penanganan persoalan ini.  Bagiamana mendorong penyediaan informasi dan pelayanan kespro dan seksual yang berperspektif gender dan berbasis hak bagi remaja.

Ketua PKBI Cabang Garut, Drs. H. Uus Kudus, M.Si, saat membuka pelatihan, menjelaskan, mayoritas penduduk Garut yang berada pada usia produktif merupakan tantangan dalam mengatasi persoalan Kespro dan seksual.

Dikatakan ia, PKBI tidak bisa bergerak sendirian mengatasi persoalan ini. Diperlukan juga dukungan pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Sebagai mahluk sosial, remaja hidup dalam sebuah situasi yang penuh dinamika.

Dalam perspektif PKBI, Penanganan Kespro dan seksual remaja tidak bisa dilakukan dengan satu cara. Tetapi disesuaikan dengan kategori remaja. Bagi remaja yang sudah menjadi korban dangkalnya menerima informasi Kespro dan seksual, tentu harus diarahkan kepada jalan untuk melakukan perilaku seksualnya dengan aman. Lebih jauh lagi, idealnya, hingga bisa pada titik untuk berhenti.

Bagi kalangan remaja yang belum terjerumus kepada perilaku seks bebas, harus disampaikan kampanye untuk “abstinen”. Maksudnya, remaja digiring untuk tidak melakukan hubungan seksual.

Namun, menyaiapkan mereka sebagai generasi yang memahami perannya ketika memutuskan untuk melakukan pernikahan. Sehingga akan melahirkan keluarga yang menjalankan fungsi reproduksi dan seksual dengan didasari kesiapan fisik dan mental. Pada akhirnya, laju pertumbuhan penduduk akan dapat dikendalikan. (*)

Menelisik Hilir Permasalahan Kesehatan Reproduksi dan Seksual


Menelisik Hilir Permasalahan Kesehatan Reproduksi dan Seksual

PERMASALAHAN sosial terkait dengan fungsi reproduksi dan seksual membayangi denyut kehidupan masyarakat masa kini. Perilaku seks pra maupun di luar nikah, berimplikasi terhadap penyebaran penyakit infeksi menular seksual (IMS) seperti gonore (kencing nanah), sifilis (raja singa), klamida, herpes simplex/herpes genital, jengger ayam/kulit kelamin, dan ulukus mole (Chancroid).

Istilah-istilah penyakit tadi mungkin masih asing di telinga Anda. Bagaimana dengan HIV/AIDS? Ya, virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia ini, juga lahir dari perilaku seks bebas. Saat ini, bukan hanya berlaku bagi mereka yang terlibat langsung dalam perilaku seks bebas. Namun juga sudah menyentuh kalangan ibu rumah tangga yang sesungguhnya istri setia. Hal ini bisa terjadi saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya yang sudah terinfeksi HIV/AIDS.

Banyak kemungkinan sang suami terinfeksi HIV/AIDS. Berhubungan seksual dengan wanita yang kerap disebut pekerja seks komersial (PSK) atau wanita malam secara tidak aman. Bisa juga merupakan pengguna narkotika dengan media jarum suntik, transfusi darah, dan lainnya.

Persoalan lainnya dalam kerangka fungsi reproduksi dan seksual dapat dilihat dari kacamata kependudukan. Hasil sensus penduduk tahun 2010, menunjukkan bahwa penduduk Indonesia berjumlah 237, 6 juta jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) 1,49 persen per tahun atau 3,5 juta jiwa per tahun. Angka ini merupakan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2000-2012). Meningkat 0,04 persen dibandingkan LPP dekade sebelumnya, tahun 1990-2000.

Padahal, jumlah penduduk yang meningkat tajam menuntut kecukupan pangan, energi, pendidikan, kesehatan, perumahan, lapangan kerja, keamanan, dan lainnya. Artinya, menjadi tantangan berat dalam menciptakan pertumbuhan dan pemerataan hasil pembangunan.

Kondisi memprihatinkan lainnya, yakni tingginya angka kematian ibu dan bayi, jumlah aborsi yang aman maupun tidak aman, dan kehamilan tidak diinginkan. Ditinjau dari sudut kemanusiaan, tentu sebuah realita yang mengusik hati nurani. Apakah kita harus membiarkan jiwa seorang ibu “terbuang sia-sia” hanya karena belum siap secara fisik dan mental saat melahirkan?

Kesemua persoalan di atas sesungguhnya merupakan hulu dari pemahaman dan implementasi kesehatan reproduksi (Kespro) dan seksual yang masih rendah. Oleh karena itu, menekan atau menghilangkan permasalahan-permasalahan tersebut harus dimulai dari hilir. Dibarengi upaya menangani permasalahan hulu yang sudah kadung merebak. (*)


Oleh : Firman dan Ade Farhan

Bersama “Mengawal” Remaja

Bersama “Mengawal” Remaja




HILIR dari permasalahan Kespro dan seksual terletak pada remaja (usia 12 – 21 tahun). Remaja yang memahami Kespro dan seksual akan menghindarkan mereka dari persoalan-persoalan terkait fungsi reproduksi dan seksual tadi. Kondisi internal dan eksternal remaja akan sangat berpengaruh dalam mewujudkan remaja yang melek Kespro dan seksual.

Dari sudut internal, remaja merupakan masa pancaroba. Pencarian identitas diri dan penuh rasa kepanasaran. Di masa inilah, pertumbuhan fisik sedang dalam tahap tumbuh pesat. Termasuk berkaitan dengan organ fungsi seksual.

Kondisi demikian, dihadapkan pada persinggungan dengan budaya luar yang makin intens. Begitu mudahnya remaja mengakses internet dengan mengkonsumsi konten tidak sehat seperti situs-situs pornografi. belum lagi pergaulan remaja saat ini yang begitu dinamis. Tidak mungkin memingit remaja putri masa kini seperti cerita novel Siti Nurbaya. Kehidupan menuntut mereka untuk luwes dalam pergaulan dengan dunia luar.

Sangat riskan tidak membekali remaja dengan kondisi emosi yang labil menghadapi godaan-godaan kehidupan seperti itu. Remaja harus diberikan informasi yang benar mengenai Kespro dan seksual. Bukan melalui informasi yang datang dari luar yang tidak sesuai dengan budaya dan agama.

Berada di tangan siapakah tugas untuk memberikan informasi yang benar itu? Jawabannya adalah tugas bersama. Keluarga, sekolah, pemerintah, media (elektronik, cetak, dan online), dan segenap komponen bangsa. Peran yang dilakukan masing-masing komponen itu sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Ketika berada dalam keluarganya, remaja merupakan anggota keluarga. Saat belajar atau kuliah, ia merupakan warga sekolah. Begitu bergaul dengan lingkungannya, remaja adalah anggota masyarakat. Sebagai warga negara, remaja merupakan bagian dari subjek dan objek pembangunan yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah. (*)

Membangun Paradigma Kespro yang Tepat



Membangun Paradigma Kespro yang Tepat

REPRODUKSI dan seksual masih menjadi hal tabu untuk dibicarakan di keluarga Indonesia. Orang tua menganggap informasi kedua hal ini tidak layak untuk diberikan kepada anak-anaknya. Anggapan ini mungkin tidak terlalu beresiko sebelum era keterbukaan.

Tetapi, sejak awal dekade 90-an tatanan kehidupan berubah. Era keterbukaan informasi melanda seluruh penjuru dunia. Didorong perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Banyak hal positif yang dilahirkan dari produk akal manusia ini. Di sisi lain, ada juga dampak negatifnya. Kuncinya, bagaimana menggunakan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi ini secara sehat dalam koridor budaya bangsa.
Pilihan ini pada akhirnya memunculkan karakteristik dalam menggunakan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi. Tentu saja, bagi mereka yang tidak memanfaatkan secara sehat berpotensi besar menimbulkan efek negatif. Inilah yang terjadi saat ini di kalangan remaja bangsa Indonesia.



Masihkah orang tua harus merasa tabu untuk membicarakan reproduksi dan seksual kepada anak-anaknya? Sedangkan kondisi menuntut para remaja untuk diberikan informasi yang benar sehingga bisa menyikapi kondisi yang dihadapinya dengan benar pula. Sekali lagi, bukan hanya oleh keluarga, tetapi seluruh komponen bangsa. Selama ini tidak dilakukan, selama itupula remaja akan mendapatkan informasi kesehatan reproduksi dan seksual yang tidak tepat. Taruhannya, permasalahan hulu Kespro dan repoduksi yang  tidak kunjung selesai. (*)

Sundawani

Written By Garut Express on Thursday, December 20, 2012 | 6:22 PM





Sundawani Terbuka untuk Suku Bangsa Lain
Rutin Membina Anggota dan Memperluas Jaringan

KENDATI keberadaan DPD Paguyuban Sundawani Kabupaten Garut belum mencapai satu tahun. Namun, jaringan keanggotaan di tingkat kecamatan terus bertambah. Diantaranya telah terbentuk Dewan Pimpinan Cabang di Kecamatan Tarogong Kidul, Pameungpeuk, Singajaya, Cisurupan, Bayongbong, dan Cilawu. Baru-baru ini, tepatnya Minggu (16/12) telah digelar acara pangistrenan (penatikan) DPC Sundawani Kecamatan Malangbong.


DPD Paguyuban Sundawani Kabupaten Garut juga rutin melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Sebagai bagian untuk menanamkan sikap dan perilaku yang serlaras Budaya Sunda terhadap anggotanya. Sehingga dapat menjadi contoh bagi masyarakat di lingkungannya masing-masing. Setiap hari Kamis, acara pembinaan rutin digelar di sekretriat paguyuban.

Dijelaskan Ketua DPD Paguyuban Sundawani Kabupaten Garut, Cecep Jagal, anggota Sundawani yang diakui keabsahannya apabila sudah memiliki kartu tanda anggota (KTA) resmi. Apabila ada orang yang mengaku sebagai anggota Sundawani, tetapi tidak memiliki KTA berarti sebuah kebohongan. Hal ini sebagai penerapan sikap kehati-hatian dalam membina anggota.

Dilanjutkan ia, meskipun bernama Sundawani, pihaknya tetap terbuka untuk suku bangsa lain. Paguyubannya terbuka lebar untuk warga suku bangsa lain. Terpenting, setelah masuk anggota Sundawani harus menjaga sikap dan perilaku serta mematuhi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga paguyuban. (Din Haerudin)***

Paguyuban Sundawani

Cecep Jagal
Paguyuban Sundawani
Menebar Kebersamaan, Menghidupkan Budaya Sunda

RODA jaman terus berputar. Menghadirkan perkembangan-perkembangan kekinian yang belum ada pada jaman sebelumnya. Kondisi ini turut mempengaruhi corak kehidupan masyarakat.

Meski begitu, tatanan kehidupan yang ideal bagi masing-masing lingkungan masyarakat sesungguhnya telah ada di masyarakat itu sendiri. Dilakukan secara terus menerus dari generasi ke generasi. Itulah budaya.
Kondisi geografis menjadi salah satu faktor tumbuhnya keanekaragama budaya. Hidup dan berkembang di lingkungan masyarakatnya masing-masing. Kini kita mengenalnya dengan istilah suku bangsa. Masing-masing suku bangsa memperlihatkan corak budaya yang berbeda-beda. Namun yang pasti, itulah yang cocok dan tepat. Karena lahir dari dalam kalangan masyarakatnya.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kini terus berkembang menciptakan tantangan tersendiri bagi kelangsungan budaya masyarakat Indonesia yang beraneka ragam. Tidak terkecuali dihadapi juga orang Sunda. Berbagai fenomena maupun persitiwa menunjukkan hal ini.

Dalam tatananan berbahasa saja, bahasa Sunda seolah terkesampingkan dari kehidupan sehari-hari. Apalagi di kalangan generasi muda, seperti pelajar dan mahasiswa. Jangan dulu berbicara terbiasa berbahasa Sunda. Sebagian orang Sunda sudah tidak mengenal dan mengerti bahasa daerahnya ini.

Apalagi, jika menganalisa lebih jauh. Seperti pola pergaulan, sosial kemasyarakatan, dan kesenian. Sulit menemukan “rasa” Sunda dalam kehidupan masyarakat Sunda. Tengoklah kehidupan perkotaan yang sudah individualitis. Bentrokan antar kelompok yang kerap muncul tidak terduga. Padahal, mereka sama-sama orang Sunda.

Kondisi demikian mengundang perhatian dari sekelompok orang Sunda dengan membentuk sebuah paguyuban bernama Sundawani. Pada tanggal 21 Juni 2007, paguyuban ini disahkan di Bandung.
Mendengar kata “wani”, mungkin masih ada yang berfikir sebagai keberanian dalam hal negatif. Pikiran semacam ini haruslah dibuang jauh-jauh. Karena wani di sini dalam arti keberanian dalam memperlihatkan potensi menjadi kompetensi diri khususnya dan setiap elemen ke-Sunda-an umumnya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai Paguyuban Sundawani ini, GE menemui Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Paguyuban Sundawani Kabupaten Garut, Cecep Jagal, di sekretariat paguyuban, Sabtu (15/12).

“Artian wani bukan dalam pengertian arogan atau ribut. Wani disini berarti dalam kebenaran. Sesuai motto Paguyuban Sundawani ‘ngajaga lembur, akur jeung bela ka dulur, panceg dina galur’,” katanya.
Ditambahkan ia, Paguyuban Sundawani harus membesarkan Sunda. Terkait dengan budaya Sunda yang selama ini sudah bisa dibilang hilang. Dengan adanya Sundawani ini, budaya dan seni Sunda bisa bangkit kembali. Ditampilkan dan dikenal kembali anak-anak sekarang yang sudah terpengaruh budaya dan seni dari Barat. Sundawani berperan untuk mengembalikan kultur Sunda seperti dalam tata cara pergaulan dan sopan santun.

“Sundawani tidak bersaing dengan kelompok organisasi masyarakat lainnya. Justru mengajak bersama-sama membangun masyarakat, khususnya di Kabupaten Garut. Siapapun dan apapun suku bangsa dan agamanya, kalau sudah masuk Sundawani harus menjaga sikap dan perilaku,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua III DPD Paguyuban Sundawani Kabupaten Garut, Lukman, menjelaskan, berkurangnya budaya Sunda terlihat dari kehidupan sehari-hari. Pertama, dalam tatanan bahasa. Bagaimana penggunaan bahasa kepada yang lebih tua atau muda. Kedua, dalam hal kesenian. Seperti dalam acara hajatan, sulit menyaksikan dihibur dengan kesenian Sunda. Tetapi lebih sering dengan kesenian modern.

“Sundawani ini orientasinya lebih ke penanaman sikap dan perilaku. Bagaimana mendorong masyarakat untuk mengedepankan kebersamaan. Sehingga kalaupun terjadi perselisihan, harus diselesaikan secara kekeluargaan. Karena semuanya pada hakekatnya bersaudara,” tuturnya. (Din Haerudin)***

Berkontribusi terhadap Pemecahan Masalah Sosial


Cecep Jagal



 Berkontribusi terhadap Pemecahan Masalah Sosial

KALIMAT “Ngajaga lembur” dalam motto Paguyuban Sundawani menegaskan kiprah paguyuban terhadap lingkungan sekitar. Siapa lagi yang peduli terhadap tatar Sunda, kalau bukan orang Sunda sendiri. Lebih khususnya lagi, kepedulian terhadap Kabupaten Garut. Tentu harus oleh warga Garut sendiri.

Sekretaris Jenderal DPP Sundawani, Robby M. Dzulkarnaen, dalam sebuah kesempatan, mengatakan, misi dan visi paguyuban tiada lain adalah untuk mewadahi setiap paguyuban yang ada di masyarakat Sunda. Di samping menggalang tali persaudaraan, meningkatkan setiap potensi individu, rekonstruksi karakter berbudaya, dan mengajak secara bersama-sama dalam memberikan solusi pada setiap permasalahan yang muncul di setiap daerah kelahirannya masing-masing.

“Pengaruh positip budaya luar seperti pendidikan dan teknologi harus diserap oleh pemuda kita. Di lain pihak, kita pun harus mensosialisasikan keunggulan budaya lokal dalam rangka memproteksi atau memfilter budaya asing yang negatif,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua III DPD Paguyuban Sundawani Kabupaten Garut, Lukman. Sundawani tidak hanya bergerak dalam menghidupkan kembali budaya dan seni. Tetapi juga dalam menyikapi permasalahan-permasalahan sosial. Contohnya, menangani kejadian bencana alam. Anggota Sundawani harus lebih cekatan. Langsung eksis.

Keberadaan Paguyuban Sundawani di berbagai daerah di Jawa Barat telah menunjukkan kiprahnya terhadap kemajuan masyarakat. Dengan menjalin tali sialturahmi antar komunitas, sosialisasi pemahaman dan penanaman nilai-nilai  budaya lokal, workshop pembangunan karakter, pasanggiri pencak silat, dan pengobatan gratis. (Din Haerudin)***

Masyarakat Tumplek Meriahkan Hari Guru

Written By Garut Express on Monday, December 3, 2012 | 1:54 AM

LEBIH dari delapan ratus peserta mengikuti Kegiatan Jalan Sehat Guru bersama masyarakat yang diselenggarakan PGRI Ranting I dan II Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut.*


MASYARAKAT TUMPLEK MERIAHKAN HARI GURU

Banyuresmi (GE). Sekitar seribu masyarakat beserta guru dan siswa tumplek pada kemeriahan jalan sehat dalam rangka memperingati hari guru dan HUT PGRI yang diselenggarakan oleh PGRI Ranting I dan II Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut, dihalaman kantor Desa Sukakarya(Minggu, 25-11-2012). Tampak hadir pada acara tersebut Kepala UPTD Pendidikan Kec. Banyuresmi beserta jajaran pengawas, Danramil Banyuresmi, Babinkamtibmas serta Endang Kahfi (anggota DPRD Kabupaten Garut) dan Enjang Tedi (Ketua Dewan Pembina ET Foundation).


Kegiatan yang dimulai pk. 08.30 hingga 14.00 tersebut dimeriahkan dengan pentas musik dan pembagian hadiah berupa Payung, Mug, Jam Dinding, Semprotan Pupuk, Kulkas, TV dan Mesin Cuci. Antusiasme masyarakat tampak terlihat dengan tidak beranjaknya dari lokasi kegiatan hingga pengundian berakhir.
Ade Supriatna, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Banyuresmi dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh PGRI Ranting I dan II. “Melibatkan masyarakat dalam kegiatan memperingati hari guru nasional merupakan suatu terobosan yang patut diacungi jempol, karena merupakan langkah strategis bagi upaya mendekatkan dunia pendidikan dengan masyarakat,” ujar Ade Supriatna.
Ade menghimbau kepada seluruh jajaran PGRI baik Cabang maupun Ranting agar menggelorakan kembali semangat menghidupkan organisasi sebagai motivasi dasar dalam berkiprah di PGRI. “PGRI sebagai organisasi profesi keguruan harus dihidupkan dengan semangat menghidupi, bukan semangat mencari kehidupan di organisasi. Oleh karenanya, mari kita luruskan kembali ittikad kita semua dalam berkiprah di PGRI dengan niat menghidupkan, bukan mencari kehidupan,” tegas Ade.

Sementara itu, Nana Supriatna, Ketua PGRI Ranting I Kecamatan Banyuresmi menyeruhkan kepada seluruh anggota PGRI dirantingnya agar menjadikan momentum hari guru dan HUT PGRI sebagai momentum introspeksi diri dan institusi agar PGRI menjadi sejatinya organisasi yang kuat dan bermartabat sebagai sebuah organisasi perjuangan guru.

“Mari kita berintrospeksi diri, apa yang sudah kita berikan sebagai bakti anggota kepada organisasi. Jangan sampai anggota hanya bisa menuntut hak tanpa diimbangi dengan kewajiban dan darma bakti kepada organisasi. Begitupun sebagai pengurus, mari kita introspeksi apa yang sudah kita lakukan sehingga PGRI benar-benar dirasakan keberadaannya sebagai organisasi perjuangan para guru,” ujar Nana Supriatna.

“Jangan sampai kebesaran PGRI hanya seperti menara gading yang menjulang tinggi tapi rapuh didalamnya. Jangan sampai PGRI menjadi mati suri, hidup enggan matipun tak mau dan menjadi organisasi Laa Yamuutu wa Laa Yahya atau organisasi yang tidak bermutu tetapi banyak meminta biaya. Tetapi PGRI harus benar-benar menjadi organisasi yang kuat dan bermartabat yang kiprahnya dirasakan oleh anggota sebagai sejatinya organisasi perjuangan guru,” tegas Nana. ***

KOMENTAR :

Ir. Endang Kahfi, MM




Sebagai Putra Banyuresmi dan Anggota DPRD Garut Dapil III, maka saya merasa terpanggil untuk merespon setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh PGRI sebagai organisasi profesi keguruan. Apalagi kegiatan yang diselenggarakan PGRI Ranting II Sukakarya ini menurut saya cukup unik sebagai sebuah terobosan kemajuan organisasi PGRI, yaitu menjadikan momentum hari guru sebagai media untuk berbaur dengan masyarakat.

Termasuk pilihan saya untuk berkecimpung dikomisi D adalah sebagai salah satu ikhtiar saya melalui lembaga legislative untuk memperjuangkan berbagai agenda yang dibutuhkan masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan baik infrastruktur maupun pemberdayaan guru sebagai tenaga pendidik. Agar keberdaan saya dilembaga DPRD dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya dalam memajukan pendididikan.


Enjang Tedi S.Sos



Tanpa Guru, tidak akan pernah ada Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati dan dokter. Oleh memuliakan guru merupakan bagian dari ibadah kita didunia. Problem guru saat ini adalah kesenjangan, antara guru PNS dengan Honorer, antara guru dengan dosen, antara guru dengan profesi lainnya. Kesenjangan ini harus diselesaikan dengan melihat akar masalahnya yaitu kesejahteraan. Bagimana kesejahteraan guru harus sama dengan profesi lainnya sebagai sesama abdi negara. Problem lainnya adalah bagaimana profesi guru harus mendapat perlindungan, bukan saja perlindungan sosial tetapi juga perlindungan hukum.

Sebagai contoh, kalau pernyataan anggota dewan dalam sidang legislative mendapat hak kekebalan hukum, yaitu tidak dapat dituntut dimuka hukum, maka pernyataan guru dalam kegiatan belajar pun seharusnya mendapat perlindungan kekebalan hukum yang sama.

Perlindungan sosial guru berdampak pada kesejahteraan guru. Saat ini guru harus bersaing untuk mendapatkan hak kesejahteraannya melalui proses sertifikasi. Sehingga demi mendapatkan hak nya tersebut, guru seperti dipacu untuk menjadi pekerja rodi agar memenuhi ketentuan mendapatkan hak sertifikasi. Padahal, ada hal yang tidak kalah penting untuk diperjuangkan oleh guru, yaitu mendapatkan hak renumerasi.


Ade Supriatna, S.Sos, M.Pd









Dalam masa tiga tahun terkahir, harus diakui ada perubahan besar dalam pola organisasi PGRI Kecamatan Banyuresmi. Dimana, organisasi PGRI ditingkat ranting mulai tumbuh dan berdaya, meskipun baru beberapa ranting, khususnya Ranting II Sukakarya dan Ranting I Sukaraja-Sukalaksana. Diharapkan geliat pada ranting I dan II berimbas keranting yang lain sehingga sebagai institusi yang langsung berhadapan dengan anggota, PGRI ranting mampu melakukan terobosan untuk pemberdayaan baik institusi maupun anggota.


Rieke Dyah Pitaloka








Rasanya setelah kepada kedua orang tua, yang paling harus saya sembah sungkem setiap iedul fitri adalah kepada guru-guru saya sejak di TK hingga SMA. Tanpa mereka mungkin saya tidak akan bisa menjadi “oneng”. Tanpa bapak/ibu guru saya belum tentu bisa menjadi seperti ini.

Wajar jika saya memiliki pemikiran untuk memperjuangkan nasib guru, lebih khusus guru honorer. Jika guru PNS disekolah negeri masih berharap dengan sertifikasi dapat memperbaiki kesejahteraannya. Lalu bagaimana dengan guru honorer yang penghasilannya amat sangat jauh dibawah upah UMR, trus mereka berharap mendapat tambahan dari pemerintah daerah berupa tunjangan, itupun harus bersaing dengan sesama guru honorer agar masuk nominasi penerima tunjangan. Ironis tapi itulah fakta.

Oleh karenanya, dilembaga DPR RI saya dengan kawan-kawan sedang memperjuangkan agar guru baik honorer maupun PNS berkesempatan untuk mendapat hak renumerasi. Dengan renumerasi, maka guru akan memiliki jaminan kesejahteraan.

Menyambut HUT KORPRI ke-41 BAPENI Gelar Pasanggiri Tembang Sunda

Written By Garut Express on Tuesday, November 27, 2012 | 8:21 AM

H. Darsani, M.Si


Menyambut HUT KORPRI ke-41
BAPENI Gelar Pasanggiri Tembang Sunda

Menyambut HUT KORPRI ke-41, Badan Pembinaan Kesenian (BAPENI) Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Garut menyelenggarakan pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran dan Anggana Sekar Kawih Sunda Pop Nuansa Garut Antar Unit KORPI SKPD dan Kecamatan se-Kabupaten Garut.
Menurut Ketua Dewan Pengurus KORPRI Kabupaten Garut, Drs. H Darsani, M.Si  Pasanggiri ini merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan HUT KORPRI ke-41.

Selain itu, kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai perwujudan peran serta KORPRI dalam pengembangan dan pembinaan kesenian khususnya seni budaya tembang sunda di Kabupaten Garut.

Kegiatan yang dilaksanakan mulai Selasa (20/11) ini, dipusatkan di Gedung KORPRI. Untuk itu, pihaknya berharap, setiap Unit KORPRI di SKPD dan Kecamatan mengirimkan perwakilannnya masing-masing.
Selain kegiatan tersebut, lanjut Darsani, beberapa kegiatan lainnya yang akan dilaksanakan, diantaranya Ziarah dan doa bersama di makam pahlawan dan para sesepuh KORPRI Kabupaten Garut, serta sebagai acara puncak peringatan akan dilaksanakan upacara bendera secara serentak di tiap-tiap kecamatan.
Sedangkan untuk tingkat Kabupaten sendiri, jelas Darsani, upacara akan dilaksanakan di lapang apel Setda, Kamis (29/11). Sementara beberapa kegiatan telah dilaksanakan diantaranya, bhakti sosial berupa penyerahan bantuan pendidikan “KORPRI dan Askes Peduli”, donor darah, operasi katarak, khitanan masal,

“Selain itu, akan digelar pula berbagai perlombaan olahraga dan kesenian daerah,” jelas Darsani.
Bahkan, ihak BAPENI juga menggelar lomba penulisan karya ilmiah serta pembacaan pengucapan sumpah Panca Pra Setia KORPRI. H. Darsani yang juga Kepala Dinas Catatan Sipil Kabupaten Garut menjelaskan, ulang tahun kali ini mempunyai arti penting dan strategis dalam menata diri dan menjaga kesehatan jasmani dan rohani setiap anggota.

Untuk itu, KORPRI akan berusaha terus meneguhkan fungsinya sebagai perekat dan pemersatu NKRI, yaitu dengan memantapkan jiwa korpsnya, meningkatkan soliditas dan solidaritas antar anggota guna mendukung percepatan reformasi birokrasi. (Farhan Aolia)***

Mengenal Kembali Berbagai Kaulinan Sunda Baheula


Mengenal Kembali Berbagai Kaulinan Sunda Baheula
Bagian 2

Jawa Barat sebagai salah satu provinsi yang kaya dengan berbagai jenis permainan tradisional. Bila dimaknai seksama, “kaulinan-kaulinan sunda” tersebut sangat atraktif dan sarat akan kebersamaan dan kesederhanaan.

Namun, akibat modernisasi, permainan tradisional ini mulai tergeser dan hampir punah. Bahkan, anak-anak sunda saat ini pun, sudah jarang memainkannya. Mereka lebih memilih permainan modern. Oleh karenanya, sebagai upaya pelestarian terhadap kearifan lokal, perlu upaya untuk mengenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada generasi muda.

Sebagai bentuk kepedulian dalam rangka melestarikan kaulinan sunda baheula, edisi kali ini SKM Garut Express,  memuat berbagai kaulinan sunda baheula dengan harapan generasi muda saat ini, termotivasi untuk melestarikan dan mengembangkan budaya sunda ketimbang budaya asing. 

1. Anjang-anjangan
kaulinan nu niru-niru jelema nu geus rumah tangga, aya bapa, ibu, anak, tatangga, warung, pasar, jeung sajabana. Biasana dilakukeun ku barudak awéwé, tapi saupama aya budak lalaki sok pirajeunan dijadikeun bapa.

2. Bébénténgan
kaulinan anu dipetakeun ku cara silihbeunangkeun (ditoél) bari ngajaga bénténg anu dijaga ku batu, talawéngkar, jeung sajabana.

3. Béklen
kaulinan anu maké bal béklén jeung sawatara kewuk. Biasana dilakukeun di jero imah atawa téras.

4. Boy-boyan
kaulinan anu maké bal saukuran bal ténis pikeun malédog.

5. Talawéngkar
nu ditumpukkeun. Upama keuna, anu jadi ucing kudu ngaberik terus malédogkeun bal ka nu malédog tumpukan talawéngkar bieu. Kitu terus nepikeun kabéh pamaén keuna kabalédog.

6. Congklak
kaulinan maké papan kai dieusi kewuk.

7. Cacaburangé
kaulinan di jero imah bari kakawihan. Aya nu jadi ucing nu kudu neguh barang anu dikeupeul ku batur. Upamana nu ngeupeul éta batuna kateguh, gantian jadi ucing.

8. Cingciripit
kaulinan bari kakawihan.

9. Damdaman
kaulinan anu maké mikir lantaran butuh stratégi sangkan buah dam urang teu béak dihakan ku buah dam batur anu jadi lawan urang.

10. Endog-endogan
kaulinan maké leungeun bari kakawihan. Leungeun ditumpuk bari meureup nyarupa endog, terus gogoléangan atawa endogna peupeus nuturkeun kawih.

11. Empét-empétan
kaulinan mangsa sawah dibuat ku cara niupan tarompét tina jarami.

12. éncrak
kaulinan anu biasana maké sarupaning sisikian (siki asem, siki tanjung, jeung sajabana)

13.  éngklé
kaulinan ku cara éngklé-éngkléan bari suku nu teu napak kana taneuh mawa batu. Nalika nepi kana kalang anu jadi bates, batu éta kudu ditajongkeun kana batu séjén anu ditangtungkeun

14. Galah asin
kaulinan maké kalang di taneuh buruan ku cara lumpat ti hiji kalang ka kalang lain terus balik deui. Salila bulak-balik, teu meunang katoél atawa beunang ku nu ngajaga kalang. Dipaénkeun baladan.

15. Gatrik
kaulinan maké awi bébékan anu kudu dibetrikkeun pajauh-jauh ku jalan diteunggeul ku paneunggeul tina awi ogé.

16. Gugunungan
kaulinan paluhur-luhur nyieun gugunungan tina taneuh, biasana taneuh ngebul.
17. Hahayaman
kaulinan lobaaneun anu salah saurangna jadi hayam, saurang nu lain jadi careuhna. Hayam diudag-udag careuh bari lulumpatan sanajan teu laluasa lantaran dihalang-halang nu séjén anu jadi pager.

18. Jajangkungan
kaulinan leumpang maké awi dua anu aya panincakan. Disebut ogé égrang

19. Luncat tali
kaulitan ngaluncatan tali anu dicekelan ku duaan. Talina saeutik-saeutik diluhurkeun.

20. Oray-orayan
kaulinan lobaaneun bari kakawihan, pacekel-cekel taktak, jeung ngantay maju siga oray luar-léor.

21. Paciwit-ciwit lutung
kaulinan bari kakawihan jeung paciwit-ciwit leungeun nuturkeun paréntah kawih

22. Pérépét jéngkol
kaulinan bari kakawihan jeung nyangkedkeun unggal suku sabeulah, terus puputeran teu meunang leupas.

23. Pelak cau
kaulinan nangkeup tihang imah ku sababaraha urang pauntuy-untuy. Aya hiji nu kudu nyobaan ngabetot budak ti nu pangtukangna sina leupas.

24. Sérmen
kaulinan peperangan pabalad-balad bari maké pedang anu dijieun biasana tina awi. Saurang dianggap paéh upama sukuna ti tuur ka handap katoél ku pedang musuhna. Kitu saterusna nepikeun kabéh musuh paéh.

25. Sondah
kaulinan ku cara éngklé-éngkléan make ngaliwatan kalang kotak-kotak. Aya kotak anu ditandaan ku kojo (tina batu) anu teu meunang ditincak.

26. Sorodot gaplok
ampir sarua jeung éngklé, ngan batuna dibawa ku suku bari leumpang gancang terus sarua ditajongkeun kana batu séjén anu ditangtungkeun

27. Ucing-ucingan
kaulinan lulumpatan jeung nyingcétan lantaran diudag jeung rék ditoél ku nu jadi ucing.

28. Ucing sumput
kaulinan néangan batur nu nyumput upama saurang jadi ucing. Biasana ucing ngitung heula méré waktu batur nyumput saacan kudu néangan kabéhanana. Aya rupa-rupa aturan.

Diolah dari berbagai sumber***

Ayo, Bangkit dan Maju !

Written By Garut Express on Sunday, November 25, 2012 | 7:25 AM



IKUTSERTANYA 42 kecamaan se-Kabupaten Garut memberikan sinyal akan kerinduan terhadap Porkab. kendati dihadapkan pada seabreg kekurangan, kecamatan bisa membuktikan diri bisa mengatasinya. Satu hal yang pasti, dibalik itu ada sebuah kebersamaan.

Ya kebersamaan antara Koordinator Olahraga Kecamatan (KOK), Muspika, lembaga pemerintah/swasta, dan masyarakat umum. Kolaborasi mereka bisa mengangkat perahu mereka mengarungi sengitnya persaingan Porkab Garut 2012.

Walau baru riak di permukaan, partisipasi seluruh kecamatan itu layak disyukuri. Minimal mereka telah memiliki semangat untuk bangkit dan maju. Dua hal yang selalu didegungkan KONI Garut melalui Ketua Umumnya, H. Ato Hermanto.

Dengan lugas, H. Ato Hermanto, dalam sebuah kesempatan, menyatakan, melalui Porkab ini, minimal semua elemen memiliki semangat untuk bangkit dan maju. Memiliki semangat untuk bangkit, sehingga bisa mencapai kemajuan yang diimpikan. Karena untuk mencapai kemajuan harus didorong oleh semangat yang besar. (Firman/Awis)***

Ksatria Hilang Itu Kini Telah Kembali



DIKISAHKAN seorang ksatria menghilang selama dua belas tahun. Ia lenyap seolah ditelan bumi. Tidak ada kabar apapun mengenai menghilangnya kstaria ini. Entah kemana ia selama belasan tahun menghilang itu.
Kini, berkat berbagai upaya semua pihak, sang ksatria berhasil ditemukan kembali. Kedatangan ia disambut dengan suka cita seluruh masyarakat. Karena diharapkan akan membawa kebangkitan dan kemajuan dalam berbagai sektor kehidupan.

Begitulah gambaran ringkas prosesi seni “Satria Intan Gumilang” dalam acara pembukaan Pekan Olahraga Kabupaten (Porkab) Garut 2012 di SOR Merdeka, Sabtu (17/11).

Dalam pertunjukkannya, sang ksatria memanahkan busurnya ke suatu arah. Hingga akhirnya api abadi Porkab menyala secara tiba-tiba. Kobaran api Porkab ini menyampaikan pesan agar Porkab senantiasa diselenggarakan secara kesinambungan. Sehingga semangatnya mengiringi langkah denyut kehidupan warga Garut dalam segala bidang.

Penampilan kolosal “Satria Intan Gumilang” ini menjadi ciri utama acara pembukaan Porkab Garut 2012. Dibarengi tata cahaya dan suara yang artistik, membuat pagelaran seni ini begitu menggugah semua orang yang menghadiri acara tersebut.

Tidak hanya itu, hadirin juga disuguhi tiga kesenian tradisional khas “Kota Intan”. Secara bergiliran, rampak kendang, surak ibra, dan dodombaan raja dogar menghibur penonton. Suasana bahagia dan gemibra menyeruak di malam hari itu.

Tidak ketinggalan pula, aksi paduan suara dari mahasiswa Uniga dan SMAN 1 Garut. Lagu-lagu spirit bernegara dan berbangsa serta olahraga sepertinya mampu menyulut semangat semua hadirin. Sebuah suntikan moril bagi para atlet yang akan berlaga di ajang multieven terbesar di Kabupaten Garut ini.
Dipenghujung prosesi seni itu, luncuran kembang api menghiasi langit di atas SOR Merdeka. Selama beberapa menit, sinar warna warni dari kembang api ikut menerangi area pertunjukkan. Akhirnya, penampilan band menutup dengan indah acara pembukaan Porkab.

Cukup menarik juga, menyaksikan devile kontingen kecamatan. Mereka melenggang dengan gagah menapaki trek di depan tribun penonton dan kehormatan. Seakan memberikan sinyal kesiapan mereka untuk meriah prestasi terbaik.

Semarak Porkab juga nampak melalui area bazar ekonomi kerakyatan yang berada di sekitar pintu utama SOR Merdeka. Di sana terdapat beragam produk unggulan kecamatan. Sehingga warga dapat berkesempatan memilih produk yang disenanginya. Keberadaan bazar ini dipastikan akan berlangsung selama pagelaran Porkab Garut 2012.

Hujan gerimis yang sempat mengguyur SOR Merdeka tidak menyurutkan semangat panitia, atlet, official, dan pendukung acara pembukaan lainnya. Mereka begitu bersemangat bersama-sama menyukseskan jalannnya acara.

Semoga, harapan KONI Garut agar Porkab dapat dilakukan secara kontinyu dapat terwujud. Karena berbicara Porkab bukan olahraga semata. Namun, memberikan efek positif terhadap bidang lainnya. (Firman/Awis)***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Garut Express - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger