![]() |
| Endah (90), tampak termenung di depan rumahnya saat orang lain suka cita menerima BLSM.* |
DIUSIANYA yang sudah tua renta, Endah (90), Warga Kampung Anggrek, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, hanya bisa menggantungkan hidup pada cucunya, Siti (32), yang hanya memiliki mata pencaharian serabutan. Sehingga tak ayal, hidupnya yang hampir satu abad itu, tak bisa menikmati masa pensiunnya di saat usianya sudah semakin tua renta.
Meski keadaan hidupnya sangat memprihatinkan, namun tak membuatnya untuk patah arang menjalani kerasnya kehidupan. Bahkan sesekali, ia harus turun untuk bekerja membantu perekonomian cucunya. Meski tak banyak upah yang dihasilkan dari kerjanya, namun rasa syukur selalu terucap dari bibirnya.
Saat matahari pagi mulai tampak di upuk timur, Endah, sudah keluar dengan sapu lidi di tangannya. Menyapu-nyapu di halaman milik tetangganya, sudah menjadi pekerjaan rutin yang ia tekuni sejak dirinya tak mampu lagi menjadi buruh tani. Meski upah yang diterimanya tak besar, namun Endah, selalu bersyukur dengan rezeki yang telah diterimanya.
"Alhamdulilah kenging artos sakedik oge insya Allah manfaat kange nini mah," kata Endah, Kamis (11/7).
Meski kehidupan Endah serba terbatas, namun tak membuat dirinya serta merta mendapatkan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Mungkin kemiskinan yang diderita Endah, luput dari perhatian pemerintah. Endah hanya bisa mengelus dada, saat ratusan orang mengantri di Kantor POS Kecamatan Cibatu, untuk mencairkan BLSM.
Ada rasa iri, kata Endah, saat orang lain yang lebih mampu mencairkan BLSM. Sementara dirinya yang hidup sebatang kara dan menumpang di rumah cucunya luput dari pendataan. Namun Endah tak bisa berontak, menerima apa adanya yang telah dikaruniakan tuhan menjadi penghibur terbaiknya disaat rasa iri itu muncul.
"Ari kahoyong mah ulah osok nyolok mata buncelik teuing. Keur mah Nini teh, teu boga naon-naon, ditambah deuih dipapanas ku ngabagi-bagi duit anu teu puguh sasaranna," kata Endah.
Endah mengeluhkan, selain tak menerima BLSM, ia pun tak pernah menerima Jamkesmas. Sehingga setiap ia menderita rasa sakit di usianya yang sudah tak muda lagi, Endah, tak berani ke rumah sakit atau Puskesmas karena takut mahalnya biaya berobat.
"Ninimah mah geus kieu nasibna, mun geuring ge teu wani ka rumah sakit atawa Puskesmas da sieun mahal mayarna. Bade artos ti mana ari Nini keur biaya berobat, keur hirup sapopoe oge susah," keluhnya.
Nasib serupa ternyata menimpa pada, Aminah (70). Meski hidupnya hanya menumpang di rumah anaknya, ia luput dari pendataan sebagai warga penerima BLSM. Ia hanya mendapatkan Rp 50.000 dari pemberian tetangganya yang iba terhadap nasib Aminah. Aminah tak bisa berbuat apa-apa saat orang lain suka cita menerima uang tunai dari program BLSM.
"Wios pa abdi mah pasrah kana kaayaan nasib. Nu pentingmah abi tiasa keneh tuang," ujar Aminah, dengan nada memelas.
Amburadulnya pembagian BLSM, terjadi juga di Kecamatan Malangbong, Selaawi dan Limbangan. Salahnya sasaran penerima BLSM menjadi permasalahan yang sangat krusial dan harus dilakukan perbaikan oleh pemerintah. Kesalahan penetapan rumah tangga sasaran penerima BLSM, seakan menambah derita bagi kaum miskin yang tidak menerima program konvensasi kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) tersebut.
Salah seorang tokoh masyarakat di Malangbong, Eman (62), menurutnya kerancuan pembagian BLSM terjadi di daerahnya. Ia mengatakan, banyak warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan, malah tak dapat BLSM. Sementara warga yang berkecukupan malah menerimanya. Eman mengaku heran dengan data yang dikeluarkan oleh pemerintah. Jika data ini terus dipertahankan, menurutnya akan terjadi konflik diantara warga.
"Lamun kieu carana, sarua eujeung nyolok mata bunceulik. Ari anu beunghar dibere bantuan ari anu miskin ngegel curuk," kata Eman.
Eman berharap, pemerintah segera melakukan perbaikan data. Pasalnya, jika data warga miskin sudah salah tentunya akan merembet pada kebijakan lainnya. "Lamun nyiun data warga miskin wae geus salah komo deui menanggulangina. Jadi lamun warga Indonesia hayang sejahtera, benerkeun heula data anu dipimilik ku pamarentah ayeuna," tandasnya. (Ilham Amir/Totoh)***

0 comments:
Post a Comment