Ketua Dewan Pengurus Cabang Organisasi Angkutan Darat (DPC Organda) Kab. Garut, Dayun Ridwan menyebutkan, Lebaran tahun ini diperkirakan akan terjadi kenaikan tarif angkutan umum antara 5 hingga 7 persen. Keinakan tersebut akan diberlakukan pada H-5 dan H+5 Lebaran. Saat ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan para pengusaha angkutan umum dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kab. Garut untuk membahas kisaran kenaikan.
Alhasil, lanjutnya bagi para pengusaha angkutan umum Lebaran tahun ini ibarat menelan buah simalakama. Jika menaikan tarif terlalu tinggi dikhawatirkan jumlah penumpang akan menurun. Merasa terbebani dengan tuslah yang terlalu tinggi, mereka malah beralih menggunakan jasa angkutan lain, salah satunya kendaraan roda dua (sepeda motor). Terlebih pada musim Lebaran, pemerintah dan pihak swasta biasa menyediakan angkutan mudik gratis.
Namun di sisi lain, para pengusaha juga tidak mungkin menanggung kerugian akibat jalan macet imbas dari meningkatnya volume kendaraan. Pada musim Lebaran, angkutan umum juga hanya mengangkut penumpang dari satu arah yakni para pemudik. Sedangkan pada saat kembali ke arah sebaliknya, angkutan terpaksa melaju dalam keadaan kosong tanpa penumpang.
"Bagi para pengusaha angkutan memang jadi serba salah. Menaikan tarif terlalu tinggi pasti memberatkan penumpang, tidak dinaikkan juga pasti bakal menanggung kerugian. Para penumpang pasti bakal menggunakan angkutan lain sehingga akan terjadi penurunan. Kendati demikian, kami akan terus berkoordinasi dengan pihak pengusaha agar tidak menaikan tarif di luar batas kewajaran," paparnya.
Untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan tarif di luar ketentuan, organda juga akan terus melakukan sosialisasi dan pendekatan terhadap pihak pengusaha angkutan umum. Namun bila upaya itu tidak berhasil, dengan katalain di lapangan masih terjadi kenaikan tarif yang memberatkan penumpang, pihaknya tidak akan segan melakukan teguran.
Sementara itu, H. Wahyo, salah seorang pengusaha oto bus menyebutkan, hingga sejauh ini belum ada gambaran kisaran kenaikan tarif angkutan umum. Dia juga tidak berani menetapkan kenaikan sebelum ada rapat koordinasi dengan pemerintah atau instansi terkait lainnya. Dengan demikian, hingga sejauh ini pihaknya masih menunggu ketentuan dari pemerintah.
"Belum ada kenaikan, hingga hari ini masih tarif lama. Saya juga tidak bisa memperkirakan kenaikannya berapa persen, dan mulai kapan diberlakukan. Nanti malah dianggap mendahului," ujar Wahyo, kemarin.
Lebih jauh Wahyo mengatakan, pada intinya, jika diperlukan pihaknya siap mengoperasikan angkutan Lebaran dari 102 armada yang dimilikinya. Akan tetapi, dia juga meminta agar pemerintah lebih siap dalam hal pembenahan infrastruktur jalan. Jangan hanya pihak pengusaha yang ditekan agar siap menghadapi Lebaran.
Disinggung masalah kemungkinan adanya awak armada nakal yang menaikkan tarif di atas ketentuan, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menempel lembar informasi tarif di dalam arfmada. Hal ini dimaksudkan agar penumpang mengetahui tarif yang sebenarnya. Upaya itu juga akan didukung pengawasan ketat yang dilakukan para ceker, termasuk informasi atau masukan dari para pengguna jasa angkutan. (Farhan SN)***
Alhasil, lanjutnya bagi para pengusaha angkutan umum Lebaran tahun ini ibarat menelan buah simalakama. Jika menaikan tarif terlalu tinggi dikhawatirkan jumlah penumpang akan menurun. Merasa terbebani dengan tuslah yang terlalu tinggi, mereka malah beralih menggunakan jasa angkutan lain, salah satunya kendaraan roda dua (sepeda motor). Terlebih pada musim Lebaran, pemerintah dan pihak swasta biasa menyediakan angkutan mudik gratis.
Namun di sisi lain, para pengusaha juga tidak mungkin menanggung kerugian akibat jalan macet imbas dari meningkatnya volume kendaraan. Pada musim Lebaran, angkutan umum juga hanya mengangkut penumpang dari satu arah yakni para pemudik. Sedangkan pada saat kembali ke arah sebaliknya, angkutan terpaksa melaju dalam keadaan kosong tanpa penumpang.
"Bagi para pengusaha angkutan memang jadi serba salah. Menaikan tarif terlalu tinggi pasti memberatkan penumpang, tidak dinaikkan juga pasti bakal menanggung kerugian. Para penumpang pasti bakal menggunakan angkutan lain sehingga akan terjadi penurunan. Kendati demikian, kami akan terus berkoordinasi dengan pihak pengusaha agar tidak menaikan tarif di luar batas kewajaran," paparnya.
Untuk mengantisipasi terjadinya kenaikan tarif di luar ketentuan, organda juga akan terus melakukan sosialisasi dan pendekatan terhadap pihak pengusaha angkutan umum. Namun bila upaya itu tidak berhasil, dengan katalain di lapangan masih terjadi kenaikan tarif yang memberatkan penumpang, pihaknya tidak akan segan melakukan teguran.
Sementara itu, H. Wahyo, salah seorang pengusaha oto bus menyebutkan, hingga sejauh ini belum ada gambaran kisaran kenaikan tarif angkutan umum. Dia juga tidak berani menetapkan kenaikan sebelum ada rapat koordinasi dengan pemerintah atau instansi terkait lainnya. Dengan demikian, hingga sejauh ini pihaknya masih menunggu ketentuan dari pemerintah.
"Belum ada kenaikan, hingga hari ini masih tarif lama. Saya juga tidak bisa memperkirakan kenaikannya berapa persen, dan mulai kapan diberlakukan. Nanti malah dianggap mendahului," ujar Wahyo, kemarin.
Lebih jauh Wahyo mengatakan, pada intinya, jika diperlukan pihaknya siap mengoperasikan angkutan Lebaran dari 102 armada yang dimilikinya. Akan tetapi, dia juga meminta agar pemerintah lebih siap dalam hal pembenahan infrastruktur jalan. Jangan hanya pihak pengusaha yang ditekan agar siap menghadapi Lebaran.
Disinggung masalah kemungkinan adanya awak armada nakal yang menaikkan tarif di atas ketentuan, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menempel lembar informasi tarif di dalam arfmada. Hal ini dimaksudkan agar penumpang mengetahui tarif yang sebenarnya. Upaya itu juga akan didukung pengawasan ketat yang dilakukan para ceker, termasuk informasi atau masukan dari para pengguna jasa angkutan. (Farhan SN)***

0 comments:
Post a Comment