SALAH seorang petugas PT KAI menunjukkan patok bambu sebagai pertanda pergeseran tanah di rel kereta api, Desa Citeras, Kecamatan malangbong, Kamis (28/3).* |
Retakan Tanah di Malangbong Meluas
Lima Rumah Dikosongkan, Rel Kereta Api Ikut Terancam
MALANGBONG, (GE).-
Sejumlah warga di Kecamatan Malangbong, kini tengah dilanda keresahan. Pasalnya, sejak musim penghujan turun rumah milik warga kini terancam retakan tanah. Mereka khawatir jika suatu saat, rumah mereka akan hanyut terbawa longsor.
Kontur tanah Kecamatan Malangbong yang terdiri dari bebukitan, menyebabkan ancaman longsor senantiasa menghantui warga di sana. Terlebih lagi, saat ini curah hujan cukup tinggi. Sementara tanah penyangga rumah warga masih labil setelah kemarau panjang di tahun 2012 silam.
Akibat pergeseran tanah di Kecamatan Malangbong, berdasarkan pantauan "GE", kini lima rumah milik warga telah ditinggalkan penghuninya. Tak berhenti sampai di sana saja, kini retakan tanah pun mengancam arus lalulintas kereta api jurusan Bandung menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Petugas PT KAI kini hanya bisa memasang patok bambu sebagai pertanda ada pergerakkan tanah di area rel kereta api.
Seperti telah diberitakan sebelumnya pergeseran tanah telah melanda Kampung Sukasirna, Desa Citeras, Kecamatan malangbong. Sejak awal Januari 2013 lalu, retakan tanah di sana kian meluas. Sementara itu sampai sejauh ini, lima rumah Warga telah dikosongkan. Sementara puluhan warga lainnya harus hidup dalam bayang-bayang ancaman longsor.
Salah seorang warga Kampung Sukasirna, Desa Citeras, Kecamatan malangbong, Evi (39), mengaku dirinya dan tiga orang anaknya harus rela meninggalkan rumah yang telah dibangunnya karena takut suatu saat rumahnya ambruk tergerus longsoran tanah. Saat ini kondisi rumahnya telah retak-retak akibat ada pergeseran tanah.
Sementara suaminya, Nandang (45), pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib menjadi pedagang asongan agar bisa memperbaiki rumahnya yang terancam ambruk akibat pergeseran tanah. Selain rumahnya, kata Evi, ada empat rumah lagi milik tetangganya yang ikut terancam longsor akibat pergeseran tanah.
"Sampai saat ini, sudah lima rumah di kampung ini yang sudah dikosongkan. Mereka takut jika tiba-tiba rumahnya ambruk diseret longsoran tanah," kata Evi.
Korban lainnya, Komar (43), menambahkan karena takut ada korban jiwa, lima keluarga kini mengungsi ke tetangga dan sanak familinya. Keresahan itu tampaknya meluas ke warga lainnya, karena pergeseran tanah terus meluas. Bahkan saat ini, rel kereta api pun ikut terancam.
Komar berharap, pemerintah setempat segera turun tangan untuk atasi keresahan warganya saat ini. Menurutnya, jika tak segera diantisipasi, ia khawatir pergeseran tanah itu akan memakan korban jiwa.
Sementara itu, berdasarkan penuturan sejumlah warga, pemerintah setempat pernah menyarankan agar rumah mereka segera dikosongkan. Namun sebagian warga bersikukuh tinggal dirumahnya karena tak memiliki tempat tinggal lagi. Warga berharap, pemerintah segera melakukan tindakan prefentif sebelum terjadi jatuh korban.
Warga berharap, pemerintah segera melakukan relokasi rumah mereka yang kini terancam oleh pergeseran tanah. "Jangan hanya menyuruh pindah namun tak memberikan solusinya," ungkap Komar.
Sementara itu, Petugas PT KAI, Hana Fitriadi mengatakan, pihaknya sudah memasang patok bambu pada jalur rel kereta api sebagai pertanda ada pergeseran tanah. Jika dilihat jaraknya, pergeseran tanah itu diperkirakan ada 3 kilo meter.
Hana menjelaskan pihaknya terus mengontrol setiap patok untuk memantau laju retakan tanah yang dikhawatirkan akan mengancam jalur lalu lintas kereta api jurusan Bandung ke Surabaya atau sebaliknya. Hana fitriadi mengatakan sampai sejauh ini jalur tersebut masih aman. Namun dirinya tidak bisa memastikan untuk beberapa hari kedepannya. (Totoh)***
0 comments:
Post a Comment