DADANG (45) saat menunjukkan ternak bebeknya yang mati mendadak di tempat ternaknya di Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kamis (27/12).* |
Ratusan Unggas Mati Warga Mulai Resah
SELAAWI,(GE).-
Ratusan unggas di Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, mati mendadak tampa diketahui penyebabnya. Akibatnya, kini sejumlah warga mulai resah akan menyebarnya virus H-5N1 atau yang sering disebut flu burung. Namun meski begitu, sebagian warga lainnya tanpa ragu-ragu mengkonsumsi unggas yang sudah terjangkit penyakit.
Berdasarkan pantauan "GE" di sejumlah daerah seperti di Kecamatan Limbangan dan Cibatu, unggas-unggas milik banyak yang mati mendadak. Namun sampai sejauh ini, berdasarkan pengakuan sejumlah warga belum ada peninjauan dari dinas terkait akan merebaknya kematian unggas yang mendadak ini.
Salah seorang peternak di Kampung Cianten, Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Dadang (45), ia mengaku sejak dua minggu belakangan ini bebek miliknya mulai berjatuhan mati. Menurutnya, kejadian ini tergolong aneh. Pasalnya, sejak puluhan tahun ia beternak bebek, baru kali ini mengalami kematian unggas yang begitu banyak.
Sedikitnya 200 ekor bebek milik dadang kini telah musnah. Bangkai bebek itu, kata Dadang, kebanyakan diambil warga untuk dijadikan pakan ternak lele. Namun tak jarang juga, bebek yang belum mati namun sudah terjangkit penyakit, diambil warga untuk dikonsumsi.
"Sebenarnya saya takut memberikan bebek yang sudah terjangkit penyakit itu. Namun karena diminta, ya terpaksa saya kasih," kata Dadang, Kamis (27/12).
Akibat peristiwa tersebut, Dadang mengaku, dirinya mengalami kerugian jutaan rupiah. Dadang mengeluhkan kematian bebeknya karena untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia menggantungkan pada hasil telur bebek gembalanya. Dadang mengaku bingung, harus dari mana menutupi kebutuhan hidup anak istrinya.
Hal senada disampaikan oleh peternak lainnya, Olih (49), menurutnya selama 20 tahun ia beternak bebek dengan sistem digembala baru kali ini mengalami kematian unggas yang begitu banyak. Olih mengatakan, sejak Bulan November hingga Desember ini, 85 bebek miliknya terus berjatuhan.
Biasanya, kata Olih, bebeknya yang sakit cukup diberikan obat tradisional semacam ramuan yang sudah dipercayainya sejak dulu. Namun untuk peristiwa kematian unggas saat ini, obat ramuan tradisional yang telah dipercayainya sejak puluhan tahun itu tak mampu mengobati bebek yang sudah terjangkit penyakit itu.
Olih berharap, dinas terkait segera turun tangan guna menganalisa penyebab kematian unggas-unggas yang ada di daerahnya itu. Jangan sampai, akibatnya menular kepada manusia. Soalnya, penyakit unggas saat ini sulit diketahui dan diobati dengan cara tradisional.
"Saya berharap dinas kesehatan dan peternakan segera turun melakukan pemeriksaan terhadap ungas-unggas milik warga. Pasalnya jika terus dibiarkan takut kejadiannya seperti di TV menular pada manusia," harap Olih.
Kejadian serupa, menimpa warga Kampung Keresek, Desa Keresek, Kecamatan Cibatu, Ependi (48), berdasarkan penuturan bapa tiga orang anak ini, belasan ayam miliknya satu persatu mati tanpa sebab yang pasti. Dalam satu hari, biasanya tiga sampai lima ayam mati tanpa sebab.
Namun jika diperhatikan, ayam yang sudah terjangkit penyakit itu, selalu mengeluarkan air dari hidung dan mulutnya. Kemudian nafsu makannya menjadi menurun dan aktivitasnya cenderung murung. Jika tanda-tanda itu sudah terjangkit pada ayam peliharaannya, sudah pasti satu atau dua hari kedepan ayamnya mati. (Dian)***
0 comments:
Post a Comment