Home » , » Membangun Masa Depan Garut Harus Berkaca ke Garut Masa Silam

Membangun Masa Depan Garut Harus Berkaca ke Garut Masa Silam

Written By Garut Express on Tuesday, January 22, 2013 | 6:07 PM

Pemateri dialog "Ngawangun Garut ka Hareup Ngeunteung Sajarah Garut ka Tukang".  Dari kiri ke kanan: Darpan Winangun, HW Setiawan, H. Usep Romli dan moderator Gin Gin Ginanjar.*

Membangun Masa Depan Garut
Harus Berkaca ke Garut Masa Silam


SEBUAH dialog budaya membahas masa depan Garut digelar di gedung LEC (Local Educations Center), Sabtu (19/1) malam. Dalam acara ini panitia yang merupakan tim sukses Cawagub Jabar menghadirkan tiga orang pemateri berkompeten di bidangnya. Mereka adalah H.Usep Romli, budayawan asal Limbangan yang juga wartawan senior, Ki Darpan Winangun budayawan dan praktisi pendidikan, serta HW Setiawan budayawan asal Bandung yang juga dosen komunikasi di salah satu universitas.


Acara yang dimoderatori Gin Gin Ginanjar, budayawan asal Cimahi Bandung, bertajuk “Ngawangun Garut ka Hareup, Ngeunteung Sajarah Garut ka Tukang”.

Sebelum acara berlangsung, acara terlebih dahulu dibuka dengan rangkaian beberapa kawih Sunda klasik dengan diringi gamelan secara live. Setelah itu acara dibuka secara resmi oleh Cawagub Jabar Teten Masduki dan dilanjutkan dengan pembacaan sajak oleh Teh Sri seorang seniwati asal Cikajang.
Teh Sri yang membacakan lima buah sajak karya H.Usep Romli HM, sejenak membuat hadirin terpesona. Sajak-sajak karya H. Usep Romli yang dibacakan Teh Sri, ditulis H. Usep Romli ketika ia bertugas meliput konflik di Afghanistan.

Di antara bait syair sajak karya Usep ini menggambarkan bagaimana perjuangan heroik para Mujahidin Afghanistan dalam mempertahankan tanah airnya dari kaum kafir. Salah satu judul sajak karya Usep Romli, “Khutbah Komandan Mujahidin Afhganistan”.

Sementara itu, dialog budaya tersebut juga mengupas bagaimana mewujudkan kepemimpinan Garut berkaca pada sejarah Garut masa lalu. Dalam kesempatan itu terungkap, para pendahulu Garut yang berhasil mengharumkan nama Garut hingga manca negara.

H.Usep Romli mempertanyakan kenapa Garut sekarang begitu minim pemimpin yang berkualitas, padahal dulu Garut tempat lahirnya tokoh-tokoh yang mumpuni, baik dari kalangan birokrasi, politisi sastrawan dan budaywan.

“Garut sekarang ini aneh, jika kita berkaca pada perjalanan sejarah Garut masa lalu. Sungguh, Garut sekarang seperti bukan Garut saja,” tuturnya.

Sementara itu, HW Setiawan menyebutkan, jika berkaca pada masa lalu, ketika pada abad ke 19 Garut bisa dikatakan pusat peradaban budaya. Menurutnya, pada abad ke 19 Garut memiliki hampir semua potensi, dari potensi SDM, budaya hingga kekayaan alam.

“Dari catatan saya yang bersumber dari sejumlah literatur, baik yang tersimpan di dalam negeri maupun luar negeri seperti Eropa, Garut pada abad 19 merupakan zaman keemasan, bahkan disebut-sebut sebagai sebuah wilayah yang memiliki potensi luar biasa,” paparnya.

Masih menurut HW.Setiawan, pada abad 19 Garut menjadi daya tarik bagi bangsa-bangsa Eropa sehingga mereka berebut untuk menguasainya. Tak heran, pada abad 19 Garut adalah salah satu wilayah primadona bagi pengunjung bangsa Eropa saat itu.

“Makanya, jika bercermin pada masa lalu, Kabupaten Garut yang sekarang sungguh mengenaskan. Ini tentunya menjadi PR semua pihak, termasuk para budayawan yang berkepentingan kembali membangun sejarah budaya Garut yang pada abad 19 membuat bangsa Eropa kepincut,” tegasnya.

Pemateri lainya, yakni Ki Darpan lebih menyoroti bagaimana memilih pemimpin Garut yang baik dengan berkaca pada sejarah Garut. Dalam pemaparan materinya, Darpan mendeskripsikan sebuah karya sastra yang bisa dibilang "master peace" saat itu dari seorang sastrawan besar Garut yang terlupakan, yakni H.Muhamad Musa dengan karyanya berjudul ‘Panjiwulung’.

Menurut Darpan, seorang pemimpin yang baik itu tidak lahir instan. Sebagaimana dikisahkan dalam Panjiwung, seorang raja yang ingin menjadikan anaknya sebagai pemimpin, maka sejak dini si anak tersebut sudah dipersiapkan dan diasah kemampuandan keilmuanya.

“Mungkin, anak jaman sekarang mengetahui Panjiwulung hanyalah nama salah satu jalan di Garut saja. Padahal Panjiwulung itu sebuah karya sastra besar yang inspiratif dan asli Garut,” paparnya.

Sementara itu, Teten Masduki saat membuka acara memaparkan, sebagai "pituin" Garut, dirinya merasa miris melihat kondisi Garut sekarang. Teten mengungkapkan, Garut sekarang sepertinya hanya terkenal dengan demo dan keberaniannya dalam berkelahi (gelut) saja. Padahal menurutnya, Garut memiliki banyak potensi untuk maju.

“Orang Garut itu jangan hanya terkenal dengan jagoan gelutnya saja, sebab untuk menjadikan Garut maju, kita tidak bisa mengandalkan otot saja. Jadi harus bisa berani menghadapi tantangan zaman dengan meningkatkan intelektualitas kita,” tegasnya.

Menurut Cawagub Jabar ini, Garut harus bangkit di segala bidang dalam menyongsong momentum hari jadinya yang ke dua abad ini. Diungkapkannya, untuk membangun Garut yang lebih baik ke depan diperlukan SDM yang berkualitas. Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas ini salah satunya membangun sektor pendidikan yang berkualitas pula.

“Saya kira, budaya adiluhung Garut yang dulu sempat mendunia itu mulai sekarang harus diwujudkan kembali dengan membangun dunia pendidikan yang lebih baik. Jika SDM Garut mendapatkan pendidikan yang cukup dan terjangkau, maka pembangunan yang baik itu akan lebih cepat terwujud,” ungkap lulusan IKIP Bandung ini.(Cep)***
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Garut Express - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger