Kurang Pasokan Bahan Baku Pengrajin Dompet Galeuhpakuon Mengeluh
Written By Garut Express on Tuesday, January 22, 2013 | 5:37 PM
Kurang Pasokan Bahan Baku
Pengrajin Dompet Galeuhpakuon Mengeluh
LIMBANGAN, (GE).-
Di Desa Galeuhpakuon terdapat beberapa industri rumah tangga sebagai penunjang aspek ekonomi bagi warganya. Dengan adanya industri rumah tangga ini, aktivitas ekonomi di Desa Galeuhpakuon menjadi lebih maju dari sebelumnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat Desa Galeuhpakuon, terhadap dunia industri saat ini sudah cukup maju sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk masyarakat sekitar.
Pengrajin dompet di Desa Galeuhpakuon ini, telah dikelola oleh Joko dan Bambang sebagai kaki kanannya pemilik usaha asal Bandung yang bernama Iyat. Sejak puluhan tahun yang lalu, usaha kerajinan dompet di Desa Galeuhpakuon di telah menjadi andalan penghasilan warga di sana.
Pengrajin di Desa Galeuhpakuon, hanya memproduksi dompet saja yang terbuat dari bahan spon imitasi. Hasil kerajinan dompet ini, biasanya dikirim ke Bandung untuk dijual dibeberapa daerah.
Sistem pengerjaannya, setiap pekerja masing-masing membawa bahan baku ke rumahnya. Proses finishing pun dilakukan di rumah masing-masing karyawan. Dalam waktu satu bulan para pekerja mampu menyelesaikan 200 lusin. Mesin yang dimiliki industri ini sebanyak 15 buah dan tersebar di rumah-rumah para pekerja.
Namun dalam beberapa minggu belakangan ini, proses pengrajin dombet tersubat, terkendala dengan pasokan bahan baku. Mereka mengaku, pemasokan bahan baku yang didatangkan dari Bandung selalu lambat. "Gara-gara telat pasokan, jadi banyak karyawan yang menganggur," kata Joko.
Menurut salah seorang karyawan, Asep (23), mengaku telah menekuni pekerjaan tersebut selama belasan tahun. Ia mengatakan, hampir minggu-minggu kebelakangan ini pasokan bahan sering terhambat. Akibat hambatan tersebut, penghasilan mereka pun menjadi berkurang.
Masih menurut Asep, dengan kurangnya pasokan bahan baku, sehingga memperhambat pekerjaan menjadi tak kunjung beres dalam waktu dekat. Dengan mengandalkan bekerja dompet saja tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam keadaan pekerjaan sering terbengkalai seperti sekarang. sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari harus tercukupi.
Dengan penuh harap, Asep mengatakan, pasokan barang bisa stabil kembali sehingga pekerjaan pun cepat beres. Menurutnya, hampir 50 persen warga di Galeuhpakuon mengandalkan hidup dari pembuatan dompet. Jika pasokan barang terus terlambat akan menghambat mata pencaharian puluhan warga di sana. (Dian)***
Labels:
Pasar Raya,
Terbaru
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment