Home » , » Buah Kholdi dan Kekuasaan

Buah Kholdi dan Kekuasaan

Written By Garut Express on Thursday, March 14, 2013 | 6:59 PM





Buah Kholdi dan Kekuasaan

ALKISAH manusia pertama, Adam dan Hawa yang menghuni surga, dipinta Allah SWT agar jangan sampai tergoda memakan buah kholdi. Semula Adam dan Hawa bertahan tidak tergoda untuk memetiknya apalagi memakan buah tersebut, mengingat seluruh fasilitas apa yang ada di surga bebas dipergunakan sesukanya kecuali makan buah kholdi. Namun, hari ke hari akhirnya semakin penasaran apalagi seluruh buah yang ada di surga pernah dirasakannya, sehingga mengundang hasrat syahwatnya semakin kuat untuk memakan satu-satunya buah yang belum mereka rasakan.

Larangan keras tak bisa terbendung, Adam dan Hawa akhinya terjerumus dalam lembah dosa. Sanksinya dapat diterka, mereka dihukum turun ke bumi untuk mengurus jagat raya ini dan membentuk keturunan.
Kisah buah kholdi ini jika dianalogikan kekuasaan di Garut, sepertinya tak jauh berbeda. Panasnya suhu politik dan berjatuhannya para penguasa, tak menyurutkan nafsu syahwat yang ingin merebut tahta kekuasaan. Buktinya, baik di ajang pilkada bupati maupun legislatif nyaris puluhan hingga ratusan orang sudah antri mengincar kursi panas tersebut. Semuanya rela menanggalkan apa yang sudah mereka miliki saat ini. Yang menjabat kepala desa, berani mundur dari jabatannya. Ada pejabat yang beberapa bulan lagi akan pensiun, ia percepat untuk pensiun dini. Pengusaha, banting setir jatuh hati pula menjadi pemain politik.

Yah, kekuasaan di pemerintahan Garut semakin panas semakin menggoda. Semua nekad ingin mencicipi, sekalipun tak memiliki bekal pengalaman maupun kemampuan bagaimana mengelola jutaan masyarakat yang memiliki kemauan berbeda-beda. Entah fenomena apa yang membuat hasrat ingin menjadi pemimpin Garut begitu besar, padahal pertarungan memperebutkan kursi panas di kabupaten Garut tak hanya berakhir di pemilu, karena sekalipun pemenangnya sudah melenggang menduduki kursi jabatannya, selama ia menjabat akan diincar kesalahan-kesalahannya dan distiluah akan diruntuhkan. 

Soal jatuh menjatuhkan dalam kekuasaan, ternyata sudah ada dalam sejarahnya sejak jaman kerajaan di tatar sunda ini. Masa keemasan kerajaan Tarumanegara tahun 670 masehi, harus terpecah menjadi dua kerajaan yakni kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Di kerajaan Galuh saat dipimpin Tarusbaya (670-723 M), perang politik merebutkan kekuasaan sekalipun sesama saudara terus tak pernah berhenti. Tak mustahil, soal perebutan kekuasaan merupakan warisan yang mestinya menjadi cermin agar tak terjadi kembali dalam sebuah pemerintahan di masa kini.

Jika rentetan semua peristiwa ternyata penyebabnya adalah hawa nafsu, maka sepantasnya kita harus mampu mengendalikan diri dari hal itu. Terima apa yang sudah kita miliki, ikhlaskan apa yang orang lain peroleh dan selalu berprasangka baik terhadap sesama. Bagi yang menduduki kekuasaan pun mesti ekstra waspada, sekecil apapun kesalahan tak ada toleransi akan dimaafkan. Sekali terpeleset, siap-siap menjadi musuh bersama. Itulah konsekwensinya menjadi penguasa di Garut, sekali mencoba kesalahan imbalannya akan diturunkan. Seperti halnya, Adam dan Hawa yang mencoba memakan buah Kholdi.***
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Garut Express - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger